Syaikh Ali Jabeer jadi korban gas air mata
Nama gas air mata kembali mengemuka saat pembubaran massa pada aksi damai 4 November oleh polisi.

Polisi beralasan, massa lini depan yang dipicu provokator mencoba menembus barikade keamanan Istana sehingga harus dibubarkan paksa dan dipukul mundur.

Namun tindakan ini dikecam peserta aksi lain di sekitar lokasi, yang mengaku tidak tahu-menahu namun juga terkena dampak hal tersebut.

Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian, sebenarnya sudah mengomando anak buahnya agar tidak menggunakan gas air mata, meski entah mengapa, di lapangan berondongan 'senjata kimia' itu terjadi bertubi-tubi.

Gas yang tak pandang bulu ini pun mengenai tokoh-tokoh terkemuka Islam di dekat lokasi. Sebut saja nama Ustadz Arifin Ilham dan Syaikh Ali Jabeer, keduanya harus mendapat perawatan medis akibat zat kimia itu.

Bahkan 1 orang demonstran atas nama Almarhum Syahrie (65 tahun) meninggal dunia di lokasi kejadian sebagaimana video yang beredar.

Polisi menyatakan Syahrie meninggal karena asma, sementara GNPF (Gerakan Nasional Penjaga Fatwa) MUI menyebut Almarhum wafat akibat gas air mata.


APA ITU GAS AIR MATA?
Dikutip dari National Geographic, sejatinya, penggunaan gas air mata dalam kondisi perang dilarang oleh Konvensi Jenewa.

Aplikasinya terhadap warga sipil juga masih mengundang kontroversi. Meski demikian, penggunannya jamak terjadi dalam beberapa tahun belakang.

Seperti pada masa Arab Spring 2013, berbagai aksi demonstrasi di Turki, hingga aksi 4 November kemarin.

Sven-Eric Jordt, profesor ilmu farmasi di Yale University School of Medicine, Amerika Serikat, menjelaskan lebih detail mengenai dampak gas air mata ini.


Sebelumnya, di tahun 2000, Jordt menemukan bahwa zat kimia itu berdampak pada tubuh manusia karena mengaktifkan reseptor (syaraf) rasa nyeri.

Saat terpapar, tubuh manusia akan merespon dengan cara menutup mata, juga rasa sakit luar biasa, dan kesulitan bernapas.


Dampak gas ini akan menyebabkan cedera seperti terbakar dan membengkak. Terutama di daerah yang lembab macam ketiak.

"Gas air mata sebenarnya bukanlah gas. Ia adalah zat solid atau cair yang berubah menjadi aerosol (partikel yang melayang di udara). Ada beberapa penggunaan bahan kimia yang (membuatnya) disebut gas air mata", ujar Jordt.

Gas air mata termasuk zat syaraf yang secara spesifik mengaktifkan bagian-bagian terkait rasa sakit/nyeri. Alasan disebut "gas air mata" adalah agar masyarakat bisa membedakannya dengan jenis gas syaraf lainnya.

"Gas air mata ditemukan dan digunakan dalam Perang Dunia I tapi tanpa pengetahuan biologi", tambah Jordt, yang juga pernah merasakan gas ini tahun 1980-an karena aksi menentang limbah nuklir saat jadi mahasiswa di Jerman.

Lalu, layak kah gas air mata digunakan pada manusia?


Ada bukti pengunaannya pada manusia menyebabkan cedera parah dan terbakar. Terutama jika terjadi di lingkungan tertutup atau jalanan kota yang memiliki bangunan tinggi (meningkatkan potensi partikel kimia terkonsentrasi).

Contohnya di Mesir, mereka yang tinggal dekat pusat demonstrasi dan cukup lama terpapar gas ini, akan mengalami masalah pernapasan. Individu yang menderita asma bisa memunculkan respon kesehatan yang parah.

"Gas air mata adalah penggunaan serius dari bahan kimia. Saya rasa akan menjadi masalah jika ia digunakan", kata Jordt.


Sesuai jawaban Jordt dan rujukan kasus Mesir, tidak menutup kemungkinan Almarhum Syahrie wafat akibat gas air mata polisi, yang mana dampak di tubuh manusia makin serius jika terindikasi menderita asma atau riwayat kelemahan kesehatan lain.

Walau demikian, versi GNPF-MUI, Syahrie tidak punya riwayat asma.


ANDALAN POLISI SELURUH DUNIA
Gas air mata adalah salah satu senjata utama pihak kepolisian menghadapi pendemo di berbagai negara, termasuk Indonesia, dikutip dari Detikcom.

Selongsong gas air mata panjangnya hanya sekitar 10 cm atau sebesar ukuran telapak tangan orang dewasa. Benda ini diluncurkan melalui pistol pelontarnya.

Saat jatuh, selongsong akan mengeluarkan asap berwarna putih. Tubuh sasaran segera bereaksi secara langsung.


Wajah akan terasa panas seperti terbakar dan biasanya juga disertai dengan keluarnya air mata, batuk-batuk, hingga bersin.

Gas air mata ampuh karena asapnya mengandung Ortho-Chlorobenzylidene Malononitrile atau disingkat CS.


Zat yang ditemukan oleh Corson dan Stoughton itu memang digunakan oleh polisi di seluruh dunia karena ampuh membubarkan massa yang dinilai bertindak di luar batas.

Saat terkena, biasanya para demonstran akan berlari dengan kondisi mata perih sehingga penglihatannya terganggu.


Kondisi itu berisiko membawa bahaya sekunder baginya, karena bisa menyebabkannya jatuh, terbentur, dan lain-lain. Hingga pingsan jika tak kuat, lalu terinjak-injak maupun bahaya lain.

Bahkan, merujuk aksi 4 November, penggunaan gas yang melenceng justru bisa memicu efek domino gerakan massa lain (selain titik ricuh) jadi ikut panik, tak terkontrol atau terpancing. (National Geographic/Detikcom/rslh)

Sebuah meme yang mengkritik penggunaan gas air mata polisi
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.