Dewan HAM PBB

ISIS mengeksekusi 20 lebih orang di utara Mosul, Irak pada minggu ini dan dilaporkan menimbun bahan kimia berbahaya di wilayah sipil. Hal ini dilaporkan oleh kator Hak Asasi Manusia PBB, dilansir dari Reuters.

Juru bicara HAM PBB Ravina Shamdasani mengatakan, kuburan massal berisi 100 lebih mayat ditemukan di Hammam al-Alil, salah satu wilayah yang digunakan ISIS untuk melakukan pembunuhan.

Ia mengutip beberapa kesaksian yang diperoleh dari berbagai sumber, termasuk seorang pria yang selamat dari eksekusi karena berpura-pura mati.

“Tentu saja ada lebih banyak wilayah pembunuhan. Kami mendapat laporan mengenai kuburan massal lainnya tapi belum dapat diverifikasi. Pasukan Irak telah menemukan cadangan besar sulfur dan laporan lainnya mengatakan ISIS telah menggunakan "fosfor proyektil" di Qayyara, dekat Mosul. Sebuah laporan yang dapat dipercaya mengatakan bahwa mereka telah membuat lubang sulfur di dekat warga sipil", ujar Shamdasani.

Ia juga melaporkan, 40 warga sipil ditembak mati pada Selasa lalu atas tuduhan "pengkhianatan dan kerja sama" dengan pasukan pemerintah Irak. Tubuh mereka digantung di tiang listrik di sekitar Mosul.

Pada hari yang sama, seorang laki-laki berusia 27 tahun ditembak karena menggunakan ponsel.

Enam orang digantung pada 20 Oktober lalu karena menyembunyikan kartu SIM, dan 20 orang lainnya dilaporkan ditembak pada hari Rabu (9/11) karena membocorkan informasi kepada pasukan Irak.

ISIS telah mengerahkan sebuah kelompok yang mereka namakan "anak-anak khalifah", untuk mengenakan sabuk bom-bunuh-diri di gang-gang di Mosul. Menurut PBB, sesuai namanya, kelompok itu terdiri dari remaja dan anak-anak muda.

ISIS mengumumkan pada 6 November lalu bahwa mereka telah memenggal tujuh anggotanya karena mundur dari medan perang di Kokjali.

PBB juga telah memverifikasi video propaganda ISIS yang menunjukkan empat anak mengeksekusi empat orang mata-mata. Dikatakan, anak-anak tersebut salah satunya berasal dari Rusia dan Uzbekistan.

PBB memiliki informasi bahwa banyak perempuan, termasuk dari kaum minoritas Yazidi, diculik dan "didistribusikan" kepada para militan untuk “menemani” mereka.

"Kita bicara tentang kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, bahkan pembunuhan massal", tutur Shamdasani. (Reuters)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.