Pintu kantor kelompok hak asasi Amnesty International disegel di Moskow, Rusia, 2 November 2016. (REUTERS)

Amnesty International, yang menuduh Rusia melanggar HAM dalam pemboman di Suriah, diusir dari kantornya di Moskow pada Rabu (2/10), dilansir dari Reuters.

Pemerintah kota Moskow mengatakan bahwa kelompok tersebut menunggak sewa. Namun Amnesty meyakinkan memiliki dokumen yang membuktikan pembayaran kantor.

Saat tiba di tempat kerjanya, staf kantor Amnesty di Moskow menemukan kunci telah diubah, segel telah ditempatkan di atas pintu, dan listrik terputus.

John Dalhuisen, direktur Amnesty International Eropa, mengatakan, penggusuran tersebut mungkin bagian dari tindakan pemerintah karena kelompok itu kerap mengkritik Rusia, meski ada pula kemungkinan penjelasan lainnya.

Dalam sebuah pernyataan yang dikirim kepada Reuters, departemen properti kota Moskow menyebut telah mengirim peringatan tertulis kepada Amnesty mengenai tunggakan sewa.

"Keluhan ini diabaikan oleh penyewa yang tidak bermoral", kata pernyataan itu. Pengosongan kantor Amnesty tersebut dikarenakan penyewa telah melanggar ketentuan dari perjanjian sewa.

"Dalam kasus ini, tempat kami tutup dan segel", tulis Moskow.

"Klaim aneh ini sama sekali tidak benar", bantah Dalhuisen.

Ia mengatakan, kelompoknya tidak menerima peringatan serta memiliki dokumen bukti yang menunjukkan properti telah dilunasi sampai Oktober.

"Sebagai sebuah organisasi (sipil) yang telah mengkritik pemerintah Rusia, bisa jadi kasus ini masuk dalam bentuk penekanan LSM sipil", kata Dalhuisen.

"Tentu saja hal tersebut (penekanan, red) mungkin. Bagaimanapun, kasus ini tercampur dengan urusan administrasi, atau kepentingan lain yang berperan lewat pemerintah kota. Saya tidak ingin berspekulasi sampai kita memiliki kesempatan untuk menyelesaikan ini dengan pemerintah kota", lanjutnya.

Juru bicara Moskow, Dmitry Peskov mengaku tidak mengetahui masalah penyegelan kantor Amnesty.

Amnesti memang sering mengkritik pemerintah Rusia atas pelanggaran hak asasi manusia. Berawal dari dugaan Rusia dan sekutunya telah membantai warga sipil dengan serangan udara di kota Aleppo. Dimana Moskow terus membantah hal tersebut.

Di bawah pemerintahan Vladimir Putin, kelompok hak asasi yang mengkritik Moskow dan menerima dana asing telah berada di bawah tekanan pemerintah.

Para pejabat Rusia menuduh beberapa LSM yang didukung pihak asing, bekerja untuk pemerintah Barat, yang menyulut pemberontakan atau revolusi dalam menggulingkan para pemimpin pro-Rusia di beberapa negara bekas Uni Soviet.

Salah satu tindakan keras dari pemerintah adalah menyebut beberapa LSM sebagai "agen-agen asing", yang mengharuskan mereka tunduk pada pengawasan intens dari negara. (Reuters)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.