Seluruh negara anggota OKI turut mengutuk keras percobaan penyerangan ke Kota Mekkah, termasuk Indonesia

Menteri Luar Negeri Saudi Arabia, Nizar Madani, tuan rumah pertemuan

Para menteri luar negeri negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) sepakat untuk menyerahkan kasus penyerangan yang menargetkan kota suci Mekkah oleh kelompok militan Houthi (pada 27 Oktober) ke Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Dalam pertemuan darurat tingkat menteri OKI yang diselenggarakan selama dua hari pada Kamis dan Jum'at (18/11) ini di Mekkah, sekitar 51 perwakilan negara anggota OKI telah memutuskan untuk mengirimkan surat kepada PBB terkait insiden penyerangan itu, atas nama komite eksekutif OKI.

Sebagai tuan rumah, Menteri Luar Negeri Saudi Arabia, Nizar Madani, dalam sambutannya sangat mengutuk percobaan peluncuran rudal dalam upaya penyerangan terhadap kota suci bagi umat Muslim di seluruh dunia itu.

"Umat Muslim di seluruh dunia harus bisa mengambil sikap yang jelas dan tegas terhadap serangan ini untuk mencegah kelompok Houthi mengulangi upaya penyerangan seperti ini di masa depan", ujar Madani seperti dikutip CNN Indonesia dari Al-Arabiya, Jum'at (18/11).

Dalam pertemuan darurat itu, seluruh negara anggota OKI turut mengutuk keras percobaan penyerangan ke Kota Mekkah itu sebagai bentuk agresi yang telah mengancam keamanan kawasan, termasuk Indonesia.

Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno LP Marsudi, mengatakan bahwa tempat suci agama mana pun, termasuk Mekkah, harus selalu dihormati dan dilindungi bersama. 

“Indonesia mengecam dan tidak dapat menoleransi semua aksi atau serangan terhadap tempat suci agama mana pun”, tegas Retno kepada CNN Indonesia.

Retno mengatakan, konflik di Yaman yang telah berlangsung sejak awal 2015 lalu itu telah berdampak pada kepentingan Indonesia di kawasan, termasuk kepentingan warga Indonesia di sana. 

Konflik di Yaman, menurutnya, telah mengakibatkan terlukanya satu diplomat Indonesia. Konflik ini juga menyebabkan evakuasi darurat ribuan WNI di situasi yang sangat bahaya. 

"Langkah pertama yang perlu segera diambil seluruh negara yang terlibat adalah memberhentikan kekerasan terhadap masyarakat sipil di Yaman”, ucap Retno.

Negara anggota OKI yang hadir pun memutuskan untuk mengadopsi rekomendasi komite eksekutif sebelumnya yang menyatakan bahwa seluruh negara anggota OKI menentang penyerangan oleh kelompok militan itu. 

Negara anggota OKI juga menganggap setiap pihak yang mendukung dan menyokong bantuan senjata bagi Houthi dalam melakukan penyerangan, sebagai pihak yang mendukung aksi terorisme.

Dalam rapat, negara yang hadir juga sepakat untuk membentuk kelompok kerja yang terdiri dari anggota komite eksekutif OKI. Mereka akan merancang langkah-langkah praktis dan cepat dalam merespons insiden darurat seperti ini. 

Kelompok kerja tersebut itu juga yang nantinya diharapkan dapat berkoordinasi dengan PBB secara intensif untuk mendorong lembaga internasional itu agar mengambil langkah yang diperlukan guna menjamin insiden penyerangan serupa tidak terulang lagi di masa depan.

Insiden ini menjadi sorotan ketika koalisi Arab Saudi mengumumkan pasukannya berhasil mengintersepsi rudal balistik yang diluncurkan dari wilayah Yaman dan menargetkan kota suci Mekkah pada 27 Oktober lalu. 

Serangan ini merupakan salah satu yang berhasil digagalkan Saudi di tengah konflik berkepanjangan di Yaman. 

Kelompok Houthi mengonfirmasi peluncuran rudal balistik Burkan-1 ke Saudi melalui pernyataan resmi yang dirilis kantor berita mereka pada Jumat (28/10). 

Kelompok Houthi, yang disebut-sebut disokong Iran dan pendukung mantan presiden Ali Abdullah Saleh, memang menargetkan sejumlah kota perbatasan Saudi, sejak negara kerajaan itu memimpin koalisi serangan udara di Yaman pada Maret 2015 untuk mendukung Presiden Rabbu Mansour Hadi menghadapi pemberontakan.  

Sekjen baru OKI
Selain penyerangan Houthi ke Mekkah, pertemuan darurat OKI ini turut membahas dan menetapkan Sekretaris Jenderal OKI yang baru.

Sekitar 51 menteri luar negeri yang hadir, dengan suara bulat, memilih mantan Menteri Hubungan Sosial Saudi, Yusuf bin Ahmed Al-Othaimeen, sebagai Sekjen OKI baru menggantikan Iyad Madani yang memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatannya itu pada akhir Oktober lalu. 

Sekretariat OKI menyebutkan bahwa mantan perdana Menteri Arab Saudi itu mengundurkan diri sebagai Sekjen OKI karena alasan kesehatan.

Keputusan Madani untuk mundur dipublikasikan pada akhir Oktober lalu, hanya sepekan setelah ia dinilai menghina Pesiden Mesir, Abdel Fattah el-Sisi, dan memicu kemarahan warga Mesir.

Dugaan penghinaan itu terjadi pada pertengahan Oktober ketika dalam sebuah sidang OKI, Madani ingin memanggil Presiden Tunisia, Beji Caid Essebsi, namun salah mengucapkan namanya. Madani mencampur nama Essebsi dengan Sisi, menjadi 'Presiden Beji Caid el-Sisi'. (CNN Indonesia)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.