Militan Syi'ah Houthi di Yaman meluncurkan roket Katyusha ke Arab Saudi pada Minggu (20/11)

Warga mengambil barang-barang dari reruntuhan rumah aakibat serangan koalisi Arab di Sanaa, Yaman, (13/11/2016, Reuters)

Militan Syi'ah Houthi di Yaman meluncurkan roket Katyusha ke Arab Saudi pada Minggu (20/11).

Sedangkan sumber warga melaporkan, terdapat serangan udara dari koalisi Saudi di sebuah provinsi perbatasan Yaman dalam masa 48 jam gencatan senjata.

Houthi mengatakan roket itu menargetkan pangkalan militer di provinsi Najran. Mereka mengklaim roket diluncurkan untuk merespon serangan Saudi ke desa-desa perbatasan Yaman.

Belum ada tanggapan dari koalisi mengenai pernyataan Houthi. Namun, Jenderal Ahmed Asseri mengatakan pada CNN, bahwa pelanggaran Houthi terlalu banyak untuk dapat dihitung, dan menyarankan gencatan senjata tidak diperpanjang.

"Koalisi Arab telah mengindahkan permintaan oleh pemerintah Yaman dan masyarakat internasional dengan menyatakan gencatan senjata. Tetapi, gencatan senjata tanpa pemantauan di lapangan akan tidak berguna karena kita sedang menghadapi milisi bersenjata", ungkapnya.

Koalisi mengumumkan gencatan senjata pada Jum'at (18/11) malam.

Houthi meragukan gencatan senjata 48 jam koalisi, menuduh hal itu dirancang untuk merusak kesepakatan yang dicapai di Oman pekan lalu.

Menurut Kantor berita Saba milik Houthi, pertemuan di Sana'a antara Houthi dan Partai Kongres Rakyat Umum milik mantan diktator Ali Abdullah Saleh "menyambut upaya Kesultanan Oman untuk mencapai perdamaian di Yaman" dan mengecam serangan koalisi.

Sebaliknya, Presiden Yaman Mansour Hadi menolak pengumuman dari Menlu AS John Kerry tentang rencana pembentukan pemerintahan persatuan, sebabnya, tidak mengindahkan tuntutan agar militan Syi'ah menarik diri dari kota yang dicaplok.

Sementara Utusan PBB untuk Yaman, Ismail Ould Cheikh Ahmed, mengatakan telah ada kesepakatan melanjutkan pertemuan untuk "meredam konflik & Komite Koordinasi" dengan mengutus perwakilan ke selatan Arab Saudi.

"Saya mengingatkan semua pihak bahwa syarat dan ketentuan penghentian permusuhan adalah termasuk menghentikan sepenuhnya kegiatan militer", ucap Ould Cheikh Ahmed. (Reuters).
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.