Rezim Assad dan sekutu berhasil merebut sekitar 1/3 kota Aleppo timur

Ribuan warga sipil berpindah dari Aleppo timur setelah kemenangan Assad
Revolusi Suriah memasuki saat-saat paling berat setelah memasuki tahun keenamnya.

Campur tangan Rusia dan masuknya puluhan ribu milisi Syi'ah asing membuat posisi rezim Assad menguat.

Yang terbaru, kota Aleppo timur jadi sasaran utama operasi militer Assad dan sekutunya itu agar direbut sepenuhnya.

Kota ini terkepung sejak Juli, meski pengepungan sempat ditembus selama satu bulan pada Agustus lalu oleh pejuang oposisi Sunni.

Namun pasukan pro Assad kembali berhasil mengepung Aleppo di awal September, setelah merebut kembali beberapa kawasan di distrik Ramusah.

Krisis kemanusiaan parah pun terjadi sejak saat itu. lebih dari 500 warga sipil terbunuh dan 2000 terluka pada gelombang pertama serangan besar, 22 September.

Kecaman internasional mengarah pada Assad dan Putin, setelah berulang kali fasilitas medis dan aset pendukung kehidupan sipil dihajar oleh serangan udara.

Namun tak ada kemajuan berarti yang dicapai oleh rezim pada saat itu. Rusia pun menangguhkan serangannya.

Giliran kelompok oposisi Sunni Jaisyul Fath mencoba membuka blokade di akhir Oktober, namun serangan ini gagal total membuka jalur suplai baru lewat wilayah padat di Aleppo barat.

Pertengahan November, Assad dan sekutunya kembali melancarkan gelombang serangan besar.

Bahkan Rusia menyiapkan persenjataan lebih banyak. Didukung kapal induk Admiral Kuznetzov, serta tambahan armada di laut dan udara.

Sejak pekan lalu, serangan darat dan udara mulai membuahkan hasil signifikan, sekitar 1/3 Aleppo milik oposisi jatuh ke tangan Damaskus.

Slogan-slogan kemenangan milisi Syi'ah berkumandang di wilayah Sunni yang berhasil direbut.

Distrik Hanano dan Sakhur jadi bukti kehilangan wilayah terbesar pejuang Sunni di kota terkepung.

Meski demikian, kerugian personel yang diderita milisi Syi'ah dan tentara Assad juga sangat besar.

Kemenangan Assad tak bisa lepas dari ribuan bom yang dijatuhkan dari udara oleh Rusia, sehingga merusak garis pertahanan oposisi di distrik-distrik itu.

Ribuan warga sipil mengungsi keluar dari wilayah yang baru direbut Assad. Ada yang keluar dari kota via jalur pasukan rezim, dan ada yang memilih mengungsi ke wilayah Kurdi di Syeikh Maqsoud

Menurut Komite Internasional Palang Merah (International Committee of the Red Cross/ ICRC), pada Selasa (29/11) kemarin, sekitar 20.000 orang melarikan diri dari serangan bertubi-tubi yang terjadi di Aleppo timur.

Jumlah pelarian ini terhitung hanya sejak Minggu (27/11) saja.

ICRC mengatakan, mereka siap membantu mengatur evakuasi medis bagi yang sakit dan terluka, serta menyerukan pihak terkait agar mengizinkan warga sipil keluar dari area terkepung.

ICRC juga meminta segera dibukanya akses bantuan ke Aleppo timur yang masih dikontrol pejuang Sunni. Mengingat pasokan makanan, obat-obatan dan bantuan lainnya belum dapat mencapai tempat itu selama berbulan-bulan.

"Dengan tidak adanya tanda-tanda mengenai akhir peperangan atau langkah perdamaian, ribuan warga sipil menghadapi perjuangan bertahan hidup", ucap kepala delegasi ICRC di Suriah, Marianne Gasser, yang saat ini sedang mengunjungi tempat penampungan pengungsi di wilayah Aleppo barat.

"Kebutuhan yang besar dan pertempuran yang sedang berlangsung membuat pengiriman bantuan dan perbaikan sulit untuk dilakukan," katanya.

ICRC dan Bulan Sabit Merah Suriah (SARC) juga sedang berusaha menggali sumur untuk menyediakan air bagi para pengungsi.

Lebih dari 40.000 orang telah melarikan diri daerah pertempuran di Aleppo Barat, sehingga total pengungsi mencapai 60.000, terhitung sejak Agustus.

Di sisi rezim Damaskus, mereka ingin mengusir seluruh pejuang oposisi keluar dari Aleppo sebelum Donald Trump dari partai Republik menjabat sebagai presiden AS, 20 Januari nanti.

Assad dan sekutunya tak mau berspekulasi mengenai kebijakan pemerintah baru AS. Kemenangan di Aleppo akan jadi kemenangan besar yang menguatkan rezim itu di meja politik.

Trump sendiri menyatakan akan fokus memerangi ISIS di Suriah, termasuk kemungkinan bekerja sama dengan Rusia ataupun Assad.

Namun, detailnya masih belum jelas akan menguntungkan siapa, berbagai spekulasi masih berkembang soal langkah presiden baru itu.

Perang Suriah akan memasuki tahun ke-7 pada tahun depan, jumlah korban jiwa antara 300-500 ribu menurut berbagai perkiraan. (Reuters/rslh)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment: