Kepala politik dari kelompok Hamas Palestina, Khaled Meshaal, mengecam RUU Israel yang melarang pengeras suara untuk azan di Masjid

Pemimpin politik dari kelompok Hamas Palestina Khaled Meshaal (AA)

Kepala politik dari kelompok Hamas Palestina, Khaled Meshaal, telah mengecam RUU Israel yang menyerukan larangan penggunaan pengeras suara untuk azan di Masjid.

"(Dengan RUU ini), Israel bermain dengan api", kata Meshaal, dikutip dari Anadolu Agency pada Minggu (20/11).

RUU telah mendapat dukungan dari Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan saat ini sedang menunggu untuk disajikan kepada Knesset (parlemen Israel).

RUU tersebut sebenarnya berlaku untuk semua agama di Israel, tapi banyak pihak yang takut itu hanya ditujukan bagi masjid yang menyiarkan Azan, lima kali sehari.

Undang-undang yang direncanakan secara khusus itu menyebutkan bahwa (warga) Israel "setiap hari menderita secara intens dari kebisingan yang disebabkan oleh panggilan muazin di masjid".

"RUU ini telah menarik reaksi keras dari rakyat Palestina dan Muslim di seluruh dunia", kata Meshaal.

Sebelum disahkan, RUU harus melewati tiga putaran pemungutan suara oleh anggota parlemen.

Banyak orang Israel mengutuk RUU ini karena dianggap sebagai serangan terhadap kebebasan beragama dan bagian dari pola penganiayaan terhadap umat Islam.

Sementara itu, Meshaal meminta Presiden terpilih Donald Trump untuk mengubah kebijakan luar negeri AS dalam menyelesaikan konflik Palestina-Israel.

"Kami menyadari bahwa perkembangan regional dan internasional mempengaruhi Palestina, tapi yang membuat sejarah adalah perjuangan bangsa", kata Meshaal.

Ia juga mengatakan, mengakhiri pendudukan Israel dari tanah Palestina adalah kunci untuk stabilitas regional.

"Tidak akan ada stabilitas di kawasan itu sampai orang-orang Palestina mendapatkan kembali hak-hak mereka dan pendudukan (Israel) dari tanah kami dan tempat-tempat suci berakhir", katanya.

Israel menduduki Tepi Barat dan Yerusalem Timur sejak perang Arab-Israel pada 1967. Wilayah tersebut (dan jalur Gaza) juga diinginkan Palestina untuk membuat negara.

Pembicaraan damai yang disponsori oleh AS antara Palestina dan Israel hancur pada 2014, karena adanya penolakan dari Israel agar menghentikan pembangunan pemukiman di wilayah yang diinginkan Palestina. (Anadolu Agency)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.