Para pendukung Trump
Saat ini perhitungan suara pemilihan presiden AS masih berlangsung, menyisakan beberapa negara bagian lagi. Jelang hitungan akhir capres partai Republik, Donald Trump, unggul atas capres partai Demokrat, Hillary Clinton.

Menanggapi hal tersebut, pengguna Twitter dari berbagai negara merasa ketakutan sosok kontroversial Trump akan menang pilpres AS.

Mereka seolah tak percaya Trump yang akan memimpin negara adidaya Amerika Serikat.

"Malam ini lebih menakutkan daripada malam Halloween", ujar seorang pengguna Twitter AS.

"Saya punya paspor Irlandia", tulis pengguna lain.

Dari dalam negeri, David Sumual, Ekonom dari PT Bank Central Asia Tbk, mengungkapkan tendensi Trump untuk meningkatkan hambatan perdagangan internasional di Negeri Paman Sam yang disampaikannya sepanjang kampanye, sudah membuat pasar global was-was, termasuk Indonesia.

“Takutnya, kebijakan Trump bakal menghambat perdagangan global dan bisa berpengaruh kepada ekonomi global yang sedang melemah sekarang”, tutur David saat dihubungi CNNIndonesia.com.

Bagi Indonesia, AS merupakan negara tujuan ekspor terbesar setiap tahunnya. Sebagian besar produk Indonesia yang diminati berasal dari industri manufaktur seperti tekstil dan produk tekstil maupun alas kaki, yang banyak menyerap tenaga kerja.

Tahun lalu, ekspor non minyak dan gas Indonesia ke AS mencapai USD 15,3 miliar mengungguli China (USD 13,26 miliar), dan Jepang (USD 13,09 miliar).

Namun jika Trump menang, perekonomian Indonesia tidak bakal serta merta bakal terguncang karena secara fundamental, perekonomian domestik cukup kuat.


“Apalagi cadangan devisa Indonesia tahun ini juga lebih tinggi, inflasi lebih rendah, defisit transaksi berjalan juga rendah. Saya pikir itu jadi modal kita juga untuk menghadapi gejolak seperti ini”, kata David.

Sementara Kepala Ekonomi Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih memiliki pandangan berbeda jika Trump menjadi presiden AS sampai lima tahun ke depan. Menurutnya perekonomian negara berkembang, termasuk Indonesia, bisa diuntungkan.

Sosok Trump yang cukup kontroversial menimbulkan kegalauan pelaku pasar jika ia terpilih.

Efeknya, dalam sebulan hingga dua bulan ke depan, investor maupun manajer investasi bakal memilih untuk menempatkan dananya di negara berkembang yang dianggap lebih memberi kepastian dan memberikan tingkat pengembalian (return) tinggi.

“Karena belum tahu kebijakannya Trump bakal seperti apa, mereka lebih memilih negara yang sudah memiliki kepastian lah”, kata Lana.

Tak hanya itu, kemenangan Trump bisa jadi melemahkan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang negara-negara lain di dunia, termasuk Rupiah.

Hal ini bisa kembali menjadikan emas sebagai aset aman (safe haven) di mata investor. (Al-Jazeera/CNN Indonesia)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.