Dokter bedah yang tewas di penjara Assad

Abbas Khan, relawan medis ahli bedah ortopedi asal Inggris, tewas pada 16 Desember 2013 di dalam penjara pemerintah Assad.

November 2012, Abbas Khan pergi ke Turki untuk membantu pengungsi Suriah. Namun, setelah 48 jam memasuki Suriah, ia dinyatakan hilang.

Keluarga Abbas kemudian menghubungi Kementrian Luar Negeri Inggris, berharap bantuan dari lembaga resmi tersebut. Namun, mereka tidak bisa membantu apapun.

Delapan bulan kemudian, bantuan resmi akhirnya diberikan oleh Kedutaan India dan Rusia. Melalui bantuan itulah ibunda Abbas, Fathima Khan, bisa bertemu dengan anaknya di sebuah penjara rezim Suriah.

Saat ditemui, berat badan Abbas telah turun sampai hingga kurang dari 32 kg.

Fathima juga menggambarkan bahwa kuku-kuku anaknya hilang dan terbakar. Abbas hampir tidak bisa berjalan. Ia seperti tengkorak hidup.

Dr. Khan mengatakan (pada ibunya) bahwa dirinya disiksa serta telah ditahan oleh pemerintah Suriah selama delapan bulan.

Khan ditahan karena dituduh melakukan tindakan terorisme. Namun kepada keluarganya, ia mengatakan jika kedatangannya ke Suriah ialah untuk menolong warga sipil yang sekarat (wanita dan anak-anak).

Pada Juli 2014, dua orang saksi yang pernah satu penjara dengan Dr. Khan menyampaikan kepada BBC bahwa sang dokter memberikan pengobatan bagi para tahanan di penjara. Dr. Khan juga mengajari mereka bahasa Inggris.

Khan akhirnya dibawa pergi oleh intelijen. Orang-orang percaya dokter itu dibunuh atas apa yang diketahuinya.

"Dr. Abbas Khan sudah melihat semuanya. Mereka (rezim Assad) membunuhnya atas apa yang telah ia ketahui. Mereka tidak ingin orang-orang tahu (rahasia bocor)", kata sumber itu.

Juri pengadilan mengatakan, Dr. Khan meninggal setelah melalui berbagai penyiksaan.

Tim juri yang terdiri dari 11 orang menyatakan bahwa sebab kematian Dr. Khan tidak dapat dipastikan, tapi mereka menyimpulkannya sebagai bentuk kematian tidak wajar.

"Dr. Khan dibunuh tanpa dasar hukum yang jelas", kata pemimpin juri.

Fatima Khan mengucapkan rasa terima kasih kepada para juri. Akan tetapi ia merasa telah dikecewakan oleh berbagai pemerintah, termasuk Inggris.

"Tidak ada keadilan di Suriah seperti yang kita rasakan juga di Inggris. Tidak ada pengadilan, tidak ada keadilan. Jika berlaku sebaliknya (hukum yang jelas) mungkin anak saya akan dibebaskan", katanya.

"Saya tidak bisa menyelamatkan anak saya. Saya percaya ada hakim, ada pengacara dan menteri tapi ternyata mereka semua membohongi saya. Mereka telah menikam saya dari belakang", keluhnya.

Menurut penyidik kematian, Peter Thornton, "kejadian aneh" dimulai pada 22 November 2012. Dr. Abbas Khan yang sedang bekerja di sebuah rumah sakit, tiba-tiba ditahan saat sedang berjalan keluar sebentar.

Sejak itu, Khan tidak pernah terlihat lagi. Lebih dari satu tahun kemudian, hingga ia dikembalikan sebagai mayat, kata petugas penyidik.

Dalam sidang yang berlangsung dua minggu di Royal Courts of Justice London, juri tidak mendapat adanya bukti jika Khan pergi ke Suriah untuk melakukan menjadi petempur. Seperti tuduhan Damaskus.

"Jelas, Khan ingin menyalurkan keterampilan medisnya untuk menolong orang lain, termasuk membantu warga Suriah yang dilanda konflik", kata Thornton.

Pihak rezim Suriah terus berkeras bahwa kematian Dr. Abbas khan adalah karena bunuh diri.

Mereka mengklaim kematiannya disebabkan oleh sesak napas karena leher menggantung. Pihak rezim Assad juga mengklaim tidak ada tanda kekerasan, perlakuan paksa ataupun penyiksaan pada tubuh.

"Itu pendapat mereka (rezim Assad), ia bunuh diri. Meskipun motif bunuh diri pun tidak dijelaskan mereka", kata Divisi Investigasi Kriminal, Grant Mallon.

Saat itu, jenazah Khan dibawa oleh ambulans Palang Merah Internasional menyeberangi perbatasan di Maznaa untuk kemudian diantar ke kamar mayat di Beirut. Jenazah Khan diidentifikasi di ibukota Lebanon oleh saudaranya.

Nama Abbas Khan menjadi salah satu petugas medis yang terkenal setelah kematian tragisnya akibat penjara gelap rezim Suriah.

Khan tidak sendiri, kawan-kawannya dari dunia medis terus menjadi korban dalam perang itu. Lebih dari 95%-nya terbunuh di tangan rezim Assad dan sekutunya. (The Guardian/rslh)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.