Suasana saat bentrok
Aparat kepolisian mulai menembakkan gas air mata sejak pukul 18.15 WIB, lalu mereda. Tembakan gas air mata selanjutnya terjadi bertubi-tubi mulai pukul 19.30 hingga 20.15 WIB.

Akibat serangan tembakan gas air mata tersebut, ada puluhan massa terluka.

Menurut Gema Islam di RS. Budi Kemuliaan, ada puluhan korban cedera. Rata-rata terjadi akibat gas air mata.

Selain itu, pihak aparan kepolisian dituduh telah menembakkan peluru karet kepada umat kerumunan massa Islam. Beberapa orang mengaku luka-luka akibat tembakan ini.

Muhammad Rizki, laskar FPI yang menjadi korban penembakan peluru karet mengaku tertembak saat sedang duduk-duduk.

“Tiba-tiba ada ledakan dan terasa sakit sekali di perut ini, ternyata tertembak”, kata Rizki, Jum'at (4/11)

Ada 4 luka pada tubuhnya, seperti terlihat pada perban yang menempel.

Selain Rizki, ada pula Asep. Pria asal Rawa Belong yang tertembak saat sedang berada di garis depan. Menurutnya, polisi menembak dengan menggunakan mobil.

“Mereka tiba-tiba tembakin kita dengan brutal”, kata Asep.

Asep mengatakan, polisi juga sengaja menembakkan gas air mata kepada mobil yang ditumpangi habib Rizieq dan para tokoh lainnya.

“Itu polisi sengaja mengarah ke mobil habib”, tuduhnya.

Puluhan pasien bergelimpangan. Diantara mereka ada tokoh ternama seperti Ustadz Arifin Ilham, KH. Fachrurozi Ishaq, Syeikh Ali Jaber dan Habib Hamid Alatas.

Bahkan sempat muncul kabar jika Ustadz Arifin terkena peluru karet, namun setelah dikonfirmasi, isu ini 100% palsu alias hoax.

Asal muasal bentrokan versi peserta
Menurut keterangan sejumlah demonstran, asal bentrok berawal dari ulah provokator, yang segera direspon gas air mata (hingga laporan peluru karet) oleh keamanan.

Sumber lain mengklaim, respon kepolisian sangat berlebihan, meski massa telah berbalik arah menuju gedung DPR. Berondongan alat-alat pengontrol huru-hara itu terus terjadi.

Sumber-sumber yang mengatasnamakan FPI membantah ada upaya dari peserta aksi untuk menembus ring 1 pengamanan menuju Istana, sehingga menyebabkan kericuhan.

Versi polisi
Sementara itu, Kapolda Metro Jaya, M Iriawan, menegaskan kondisi di Istana dan sektarnya telah terkendali, setelah sempat dikepung bentrokan.

Sebelumnya, dalam sebuah video yang beredar, Kapolda berkata: "Anak buah saya sudah korban banyak. Saya nggak mau ribut sama kalian, saya tahu kalian... HMI itu emang dia provokator"

Seperti diketahui, aksi demo mulai rusuh pada Jum'at petang. Peserta beratribut Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) disebut-sebut bertanggung jawab memprovokasi massa.

Mereka melempar batu, besi, botol minuman hingga bambu ke arah polisi. Aparat kepolisian pun mulai mengeluarkan tembakan gas air mata.

Setelahnya keadaan tak lagi terkendali, pihak keamanan menembakkan gas air mata untuk memukul mundur massa.

Namun belum ada rilisan resmi kronologi versi polisi mengenai penyebab kerusuhan tersebut.

HMI membantah
Ketua Umum PB Himpunan Mahasiswa Islam Mulyadi P Tamsir membantah anggotanya terlibat dalam kericuhan di depan Istana Negara, jalan Medan Merdeka Utara. Menurutnya, HMI sebenarnya ingin membubarkan diri.

Massa HMI, kata Mulyadi, sebenarnya tak ingin menginap di Monas. Namun karena posisi berada di bagian paling depan, massa HMI tak bisa mundur akibat ada pendemo di belakang mereka.

"Tapi posisi kami berada paling depan. Di belakang kami ada massa. Kami maju nggak bisa, mundur nggak bisa", kata Mulyadi saat dikonfirmasi Detikcom.

Ia mengaku tidak tahu menahu tentang penyebab kerusuhan, dan mengklaim bukan ulah HMI. (Gema Islm/Detikcom)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.