Seorang pengungsi wanita Irak menangis karena putrinya sakit di dalam tenda pengungsian di Al Khazir kamp dekat Hassan Sham, timur Mosul, Irak 2 November 2016. (REUTERS)

Setiap kali anggota ISIS melihat seorang wanita tanpa sarung tangan di area publik, mereka menghukum wanita tersebut dengan sebuah tang. Itulah salah satu realitas yang terjadi di Mosul, Irak utara, sebagaimana dilansir dari Reuters.

"(Anggota) ISIS akan menjepit dengan tang pada kulit wanita itu dengan keras", kata Firdos, seorang gadis 15 tahun yang telah melarikan diri dari Mosul.

Firdos mengatakan, ISIS memiliki banyak cara menegakkan berbagai aturan "syariat" versi mereka (ISIS tidak mengenal khilafiyah fiqh), seperti melarang wanita dari menunjukkan bagian tangan di depan umum.

"Hukuman lainnya adalah kami (wanita) akan dicambuk karena tidak memakai sarung tangan", lanjut Firdos di Al-Khazer, sebuah kota yang kini diambil oleh pasukan Kurdi.

Firdos menolak memberikan nama lengkapnya karena khawatir ISIS melakukan balas dendam kepada keluarganya yang masih di Mosul.

Ketika ISIS merebut Mosul pada 2014 silam, mereka mengatakan bahwa siapa pun yang bergabung dengan militan Khawarij "akan mendapatkan tempat di surga".

Mereka juga bersumpah akan menghabisi Nuri al-Maliki, mantan perdana menteri Irak yang menganut Syi'ah dan dituduh melakukan kebijakan sektarian.

Janji militan memperdaya beberapa warga Sunni, sebagai minoritas yang mengeluhkan terpinggir oleh rezim Syi'ah (mayoritas) di Baghdad.

Namun, beberapa warga yang berhasil melarikan diri mengaku kehidupan di kotanya dengan cepat berubah dan membuatnya tak tahan.

ISIS mewajibkan laki-laki menumbuhkan jenggot panjang sebagai identitas Muslim. Perempuan harus menutup diri secara total, dari kepala sampai kaki. Terkadang, suami pelanggar dihukum cambuk di tempat.

Tidak ada seorang pun diizinkan meninggalkan Mosul tanpa izin khusus. Warga takut ditembak jika tertangkap dalam usaha melarikan diri.

Menurut Reuters, tak satupun sumber yang diwawancara itu pernah melihat eksekusi publik seperti penembakan atau pemenggalan, metode ISIS dalam menciptakan pengendalian massa lewat ketakutan.

Namun, mereka semua mengetahuinya karena militan sendiri yang menyebarkan berita itu. Cara ISIS dinilai mirip metode partai Ba'ats era Saddam Husein dalam menciptakan kestabilan.

Menurut berbagai sumber, termasuk pejabat keamanan Irak, beberapa perwira intelijen era Saddam kini menjadi anggota senior atau ahli strategi bagi ISIS.

Perekrutan
Setiap Jum'at, ISIS memaksa orang pergi ke masjid untuk mendengar khutbah yang mereka buat. Seperti dua tahun lalu, pemimpin ISIS Abu Bakar al-Baghdadi yang menyatakan dirinya sebagai "khalifah", berkhutbah di mosul.

ISIS juga menggunakan masjid untuk mengajak masyarakat memerangi semua musuh-musuhnya. Yaitu dari rezim Syi'ah Irak, para pemimpin Arab (yang dikafirkan dan dianggap "thaghut"), Israel, hingga Amerika Serikat.

Siapa pun yang setuju mengikuti perang ISIS, akan segera dikirim untuk mengikuti pelatihan militan di Suriah.

"Saya berbincang dengan beberapa orang yang pergi ke Suriah. Mereka belajar cara mengenakan sabuk bom bunuh diri dan pemenggalan orang", kata Abdul Kadir, salah satu pelarian yang berlindung di tenda-tenda kamp di Al-Khazer.

"Mereka berada di sana selama tiga bulan atau lebih. Beberapa masih muda, sekitar 10-15 tahun. Diantara mereka ada yang menolak semua itu, tetapi harus berpura-pura mendukung ISIS atau menghadapi risiko", jelasnya.

Abdul Kadir menceritakan, ISIS pernah menggerebek rumahnya suatu malam, menutup matanya dan membuangnya ke dalam penjara. Setelah empat hari ia dibawa ke ruang sidang yang dipenuhi tahanan.

Kejahatan yang dituduhkan padanya adalah menjual rokok. Hakim ISIS tidak memberi toleransi.

"Ia bertanya mengapa saya menjual rokok. Dan mengatakan itu bertentangan dengan Islam. Saya mengatakan kepadanya jika saya sudah putus asa untuk mencari nafkah karena tidak adanya pekerjaan", kata Abdul Kadir, yang ditutup matanya selama persidangan.

55 kali cambukan segera dilakukan pada Abdul Kadir oleh ISIS.

Ekonomi ISIS jeblok
Bersama dengan datangnya militan, tumbuh pula kesulitan ekonomi. Banyak orang kehilangan pekerjaan karena ekonomi lokal memburuk.

Suleiman, 62, masih bekerja ketika ISIS menguasai di MosuI. Namun kemudian harus bersusah payah untuk bertahan hidup.

"Banyak uang keluar untuk membayar mereka. ISIS memeras semua orang, anda harus bayar 500 dinar untuk kartu medis. Atau 2.000 lagi dengan tambahan", katanya.

Seperti warga biasa lainnya, Suleiman kini terperangkap di dalam pertempuran antara militan ISIS melawan tentara Irak dan sekutu Baratnya.

Para pejabat Irak dan Kurdi mengatakan beberapa warga Mosul mengangkat senjata melawan ISIS baru-baru ini, dengan mengambil desa-desa terdekat di sekitar Mosul. (Reuters)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.