Presiden Mesir as-Sisi
Mesir meningkatkan keamanan di kota-kota besar pada Jum'at (12/11) karena adanya rencana demonstrasi yang memprotes kegagalan ekonomi pemerintah.

Polisi anti huru hara dan kendaraan lapis baja memenuhi jalan-jalan di pusat Kairo, tetapi sebagian besar warga masih tinggal di rumah.

Presiden Abdel Fattah as-Sisi mendesak warga agar tidak melakukan aksi protes dan memperingatkan bahwa mereka tidak akan menghentikan reformasi ekonomi, tidak peduli berapa pengorbanan yang dilakukan.

Dewan eksekutif Dana Moneter Internasional (IMF) menyetujui pinjaman tiga tahun sebanyak USD 12 miliar kepada Mesir untuk mendukung reformasi. Bank sentral Mesir mengatakan mereka telah menerima USD 2,75 milyar.

Sebuah kelompok bernama Gerakan Masyarakat Miskin menyerukan rakyat Mesir untuk mengadakan protes pada 11 November mengenai langkah-langkah penghematan pemerintah yang dianggap diperlukan dalam menyelamatkan Mesir dari kehancuran finansial.

Namun, aksi protes tersebut gagal terwujud. Polisi membubarkan beberapa pertemuan kecil dan terdapat bentrokan-bentrokan kecil. Meski begitu, tidak ada warga yang tewas atau terluka.

"Warga Mesir memilih stabilitas dan pembangunan, serta menolak panggilan (aksi protes) itu", ujar Perdana Menteri Syarif Ismail dalam siaran TV negara.

Serual aksi telah muncul sejak Agustus lalu, setelah pemerintah menaikan harga bahan bakar.

Pemerintah menanggapinya dengan segera mengadakan aksi pengamanan. Terdapat pasukan keamanan di Kairo, Alexandria, Suez, Minya dan daerah-daerah lainnya.

Protes meraih sedikit dukungan dari tokoh aktivis, kelompok oposisi, juga oleh kelompok Ikhwanul Muslimin.

Banyak warga Mesir dan aktivis percaya kejayaan politik jalanan telah berakhir. Setelah mengambil kekuasaan, Sisi melarang keras perbedaan pendapat serta menerapkan hukum yang ketat terhadap aksi protes sehingga hanya sedikit orang yang berani turun ke jalanan.

Media pemerintah melaporkan, polisi mengepung pintu masuk dari Kairo maupun kota-kota lainnya dengan tujuan agar memastikan tidak ada anggota Ikhwanul Muslimin yang masuk.

Kementerian dalam negeri mengatakan pada Kamis (10/11) bahwa mereka menyita sejumlah senjata dan amunisi di kuburan dan rumah-rumah di provinsi Fayoum, barat daya Kairo, yang dituduhkan sebagai milik IM

Kementerian itu juga mengkalim telah menyerbu lima pabrik bom di seluruh negeri, hari Rabu (9/10).

Juga menuduh kelompok militan berkoordinasi dengan Ikhwanul Muslimin untuk menyerang pos pemeriksaan polisi pada aksi protes. Hal itu dibantah oleh pihak Ikhwanul Muslimin.

"Blok revolusioner pesimis untuk memprotes. Kita sekarang tahu bahwa tiap aksi jalanan mengarah pada pertumpahan darah. Tidak ada hasil yang dapat dicapai dalam rezim ini", kata Malek Adly, seorang pengacara hak asasi manusia dari Pusat Hak Ekonomi dan Sosial Mesir.

Sisi menjalankan reformasi ekonomi yang menjanjikan stabilitas, tapi masalah terus menumpuk.

Terdapat defisit anggaran 12 persen ditambah kesenjangan pendanaan yang meningkat. Sehingga Mesir membuat kesepakatan dengan IMF untuk pinjaman sebesar USD 12 miliar, Agustus lalu.

Namun, akibatnya warga Mesir dikenakan kenaikan pajak, naiknya inflasi harga pangan dan pemotongan subsidi negara.

Inflasi inti lebih dari 15 % dan terjadi hampir delapan tahun. Terjadi kekurangan devisa, serta peningkatan bea cukai yang “menampar” Mesir sebagai negara pengimpor, mulai dari gula hingga mobil mewah.

Mesir menaikkan harga listrik sebesar 25 sampai 40 persen, hingga menerapkan pajak pertambahan nilai 13% sejak Agustus. (Reuters)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.