Salim Mubaroq alias Abu Jandal

Tak banyak yang bisa diketahui soal kiprah Salim Mubaroq alias Abu Jandal selama bersama ISIS. Namun, Risalah memiliki sumber yang menceritakan sedikit sepak terjang Salim yang cukup mengejutkan.

Sejak lama, Salim dikenal memiliki ideologi yang sangat keras (ekstrim), terutama dalam perkara takfir atau memvonis kekafiran kepada Muslim lain yang tidak seideologi dengannya.

Bagi Salim, polisi dan aparat Indonesia merupakan musuh, karena ia menganggap mereka sudah "murtad" sebagai "pendukung thaghut".

Berbeda dengan kebanyakan takfiri yang keras di dunia maya, namun tak tampak di dunia nyata, Salim punya track record sebagai pribadi yang sangat berani.

Sumber Risalah itu menceritakan, Salim pernah berkelahi dengan aparat keamanan, serta menyerang penganut Buddha Indonesia saat ramai isu pembunuhan etnis Rohingya oleh Buddha Myanmar.

Ketika bergabung ISIS di Suriah, ia pernah menantang orang Indonesia lain di negeri itu (yang anti ISIS), untuk diselesaikan dengan kekerasan.

Sosoknya yang berideologi ekstrim serta bernyali tinggi, menjadikan perwujudan tentara ideal Khawarij ISIS.

Segera Salim jadi salah satu tokoh Indonesia berpengaruh, walau dikabarkan ia pernah bersikutan dengan anggota lainnya. Ia tetaplah militan dengan mental tempur dan keberanian di garis depan.

Tahun 2016 ini, laporan muncul, Salim telah berpindah ke Irak sebagai medan tempur paling intensif kelompok ultra ekstrimis akibat gemburan berbagai pihak. Yang sekaligus menjadi berita kematian sang takfiri pemberani pengancam TNI.

Salim Mubaroq tewas dengan melakukan serangan bom bunuh diri di kota Mosul yang digempur.

Menurut rangkuman CNN Indonesia, ada beberapa hal terkait Salim berdasarkan salinan pro justicia, yaitu:

Ia diketahui berangkat ke Suriah pada Juli 2014 lalu, bersama 11 orang lainnya, termasuk dua orang istri dan anak-anaknya.

Salim berangkat atas bantuan Helmi Alamudi alias Abu Royyan yang sudah ditangkap oleh Kepolisian. Helmi membeli tiket pesawat menggunakan dana pribadi Salim.

Helmi mendapatkan sejumlah uang ketika ada di sebuah pesantren di Malang, Jawa Timur. Salim disebut membantu menampung uang dari orang-orang lain yang hendak berangkat ke Suriah.

Mereka berangkat lewat jalur Malaysia dan Turki. Abu Jandal juga mengurus visa rombongan tersebut.

Total Rp 150 juta digunakan untuk memberangkatkan belasan orang itu. Sementara Rp 92 juta untuk digunakan akomodasi.

Salim yang memimpin rombongan memang berniat untuk bergabung dengan ISIS di Suriah. Dari Turki, mereka dijemput oleh warga setempat yang membawanya ke sebuah desa kecil di perbatasan menggunakan mobil van.

Sesampainya rombongan di Suriah, mereka dilatih bongkar pasang senjata jenis AK-47, oleh warga setempat yang berperan sebagai instruktur. Mereka didampingi seorang WNI yang bisa berbahasa Arab.

Di sana mereka juga diberi tugas menjaga gerbang perkemahan secara bergilir berbekal senjata. Anggota kelompok itu juga bergantian memberikan ceramah.

Dalam kesaksiannya di Pengadilan Jakarta Barat, 27 Januari lalu, Abu Royyan mengatakan jika Salim juga pernah ke Suriah pada 2013.

Ia pergi ke Suriah bersama Abdul Hakim. "Abu Jandal pulang mencari tenaga baru", kata Abu Royyan. (CNN Indonesia)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.