Jokowi bersama Ahok
Oleh Wagaring Front

Aksi massa besar-besaran dari berbagai elemen umat Islam akan digelar seusai shalat Jum'at hari ini, di Jakarta.

Ada beberapa isu yang digoreng oleh berbagai pihak, yaitu "ancaman bahwa Indonesia bisa jadi seperti Suriah" serta "ditunggangi kelompok radikal dan ISIS".

Tapi apakah benar demikian? Atau hanya pepesan kosong untuk menakut-nakuti publik jelang aksi 4 November ini?

Indonesia akan jadi Suriah
Isu isi dimunculkan oleh para pendukung Ahok, terutama para pemeluk Syi'ah.

Apakah mungkin terjadi?

Jawabannya mungkin saja, jika hal-hal mengerikan yang dilakukan rezim Assad terjadi dalam aksi 4 November kepada massa.

Antara lain yang dilakukan Assad sehingga memicu kemarahan nasional, terutama kaum Sunni, pro Demokrasi dan pihak-pihak yang anti partai Ba'ats:

1. Menculik anak kecil dan menyiksanya sampai mati di provinsi Dara'a karena membuat coretan anti rezim, inilah yang menjadi domino jatuh pertama.

Acara pemakaman berubah jadi aksi protes yang direspon dengan kekerasan aparat Suriah. Aksi protes berlanjut, tindakan represif yang sama tetap terjadi pada unjuk rasa damai.

Lalu diculiknya Hamzah al-Khatib karena berada di barisan pemrotes, selama hampir 1 bulan disiksa di tahanan rezim Assad, dan dikembalikan dalam keadaan sebagai mayat.

Rekaman video mayat Hamzah yang rusak segera menjadi viral, sehingga makin memperbesar kemarahan terhadap rezim.

Tuntutan para pengunjuk rasa jua mulai bergeser, dari reformasi politik dan hukum, menjadi tuntutan tumbangnya kekuasaan rezim Assad dan partai Ba'ats.

Yang perlu dicatat, kemarahan rakyat Suriah saat itu diperkuat dengan akumulasi pemerintahan represif selama 40 tahun menggunakan hukum darurat. Hamzah atau anak-anak lainnya yang jadi korban, hanyalah setitik api di tengah padang gersang.

2. Militer Assad tak tanggung-tanggung dalam melakukan tindakan represif kepada para demonstran. Pengeboman (mortar) dan penembakan dilakukan kepada warga sipil yang berkumpul

3. Mengepung sebuah wilayah yang jadi lokasi aksi massa

4. Menurunkan milisi kriminal bersenjata (Syabihah) untuk menyasar warga penentang, bertujuan menimbulkan ketakutan. Laporan aktivis menyebut, Syabihah melakukan kekejaman di luar hukum terhadap warga sipil.

5. Menangkap, menahan dan menyiksa ratusan ribu orang yang mana hingga kini masih banyak yang tak jelas keberadaannya

6. Melarang RS pemerintah merawat korban luka dari pihak demonstran. Hal ini terjadi di provinsi Dara'a. Paramedis dilarang merawat korban dari pihak demonstran. Sementara berondongan peluru aparat ditembakkan ke mobil ambulas yang mengevakusi demonstran.

7. Menyasar desa-desa Sunni oposisi yang dibenturkan dengan militer Sunni (politik sektarian), serta menurunkan provokator untuk menembaki aparat itu dan demonstran.

8. Eksekusi intelijen rezim terhadap tentara yang menolak menembak demonstran, menjadi hal lain yang membuat isu pembelotan massal menguat.

Dan seterusnya..

Setelah kekerasan terjadi selama berbulan-bulan, perlawanan bersenjata timbul sedikit demi sedikit. Sampai akhirnya, puluhan ribu militer membelot dari pemerintah untuk memihak penentang, saking tak tahan lagi melihat kekejaman.

Para tentara (mayoritas Sunni) yang berjumlah sekitar 30-40 ribu personil membelot. Versi hitungan moderat, jumlah SAA (tentara Suriah) yang membelot adalah 15-20 ribu orang. Sementara versi rezim hanya 7.000 orang.

Tentara pembelot, bersama warga sipil, terutama yang pernah ikut wajib militer mendirikan FSA. Itulah episode selanjutnya revolusi Suriah.

Apakah mungkin pemerintah RI akan tega dan mampu (kekuatannya) melakukan itu, sebagaimana pemerintah Suriah?

Kami yakin sangat-sangat kecil kemungkinannya, bahkan mustahil. TNI dan Polri tidak akan tega (tepatnya tidak akan mau) bertindak seperti di Suriah, terlebih RI adalah negara demokrasi. Aparat Indonesia berbeda strukturnya dengan Suriah yang dikuasai partai Ba'ats serta beraroma sektarian.

Adapun isu ancaman kekerasan yang berhembus lebih cocok disebut sebagai "perang urat syaraf".

Isu-isu "meniru Suriah" yang sempat digemborkan oleh pro Ahok, bisa jadi hanya upaya membuat orang ragu dengan aksi damai 4 November.

Yang mana seandainya arah tuntutan massa bergeser jadi ganti pemerintahan Jokowi, maka tingkat resiko konflik terbesarnya adalah seperti 1998.

Tapi saat itu RI juga tidak stabil akibat belitan rezim Orba selama 32 tahun, ditambah krisis ekonomi dan masalah multidimensi bangsa lainnya.

Jadi risiko RI jadi seperti Suriah, baru pada tatanan pepesan kosong kan?

Ditunggangi ISIS dan kelompok garis keras
Ini adalah isu lain yang berkembang. Contohnya adalah yang diungkap oleh pengamat terorisme Sidney Jones, mengenai risiko 4 November akan diprovokasi oleh kelompok garis keras.

Jika ambil contoh Suriah. Justru ISIS atau militan apapun tidak terlibat pada awal revolusi Suriah.

ISIS baru masuk pada tahun 2013. Itupun karena dekatnya wilayah Suriah dengan Irak. Sedangkan Jabhah Nushrah (JN) atau utusan Al-Qaeda (lewat ISI atau cikal bakal ISIS), lebih dulu ada beberapa waktu sebelumnya. Itupun setelah pecah perang. Mereka tidak punya kemampuan mensetting sebuah revolusi bersenjata.

Pada perkembangannya, JN bergerak ke arah jihadis "moderat" (untuk diterima faksi lain), sementara ISIS segera menunjukkan diri sebagai ultra ekstrimis (takfiri), yang membuatnya dimusuhi semua pihak.

Kekhawatiran soal provokasi 4 November, yang mana kelompok ekstremis bisa memicu kekerasan dari aksi damai sih mungkin saja.

Tapi yang perlu dicatat, Sidney Jones mungkin punya data lengkap mengenai terorisme dan jaringannya. Namun ia sangat lemah dalam menafsir ideologi Islam. Bisa dibilang sangat subjektif sesuai ideologi di kepalanya, termasuk saat mengklasifikasi mana keras mana moderat.

Sidney mengira, masalah penistaan Islam adalah perkara sepele, sehingga bisa diselesaikan dengan slogan murahan "toleranisme", lalu umat Islam akan tenang.

Atau menyunat kelompok garis keras, maka Ahok bisa santai ikut pilkada.

Mau garis keras, garis lembek, bahkan preman sekalipun, pasti marah jika tahu agama Islam dilecehkan.

Tidak perlu Al-Qaeda atau ISIS atau militan lain yang dari namanya saja sudah menakutkan.

Seandainya Sidney Jones berani melakukan percobaan mengucapkan kalimat yang menghina Islam dan dipahami maksudnya, cukup dilakukan di pasar pasti dilempar sendal dan bonggol Jagung.

Satu hal lagi, Sidney sepertinya tidak mengetahui jika di mata para pendukung ISIS, aksi 4 November bisa membuat "murtad" pelakunya.

Pasalnya, para takfiri itu meyakini peserta tengah meminta kepada "para thaghut untuk menerapkan hukum thaghut terhadap Ahok".

Yang dimaksud "thaghut" oleh takfiri di situ adalah presiden Jokowi, sementara hukum thagut adalah KUHP (buatan Belanda).

Jadi, bagaimana cara penganut garis keras menunggangi 4 November nanti?
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.