Konflik Libya (foto),
Jeroen Oerlemans, wartawan asal Belanda, tewas seketika setelah peluru sniper bersarang di dadanya.

Media Belanda menyebutkan korban sedang berada di Sirte, sebuah kawasan bekas wilayah yang pernah dikuasai ISIS.

Saat itu ia sedang bersama tim pembersih ranjau yang sedang melaksanakan tugas. Namun, ternyata masih ada beberapa militan ISIS yang bertahan di Sirte dan menembak mati Oerlemans.

Juru bicara operasi militer Al-Bunyan Al-Marsous di Libya, Reda Essa, mengatakan wartawan foto Jeroen Oerlemans tewas seketika setelah tertembak di dadanya.

Jeroen Oerlemans dikenal sebagai wartawan yang sering bersinggungan dengan militan ISIS. Pada tahun 2012, ia diculik di Suriah namun dibebaskan sepekan kemudian.

Berbeda nasib dengan rekan sesama jurnalisnya, John Cantlie wartawan Sunday Times of London yang juga diculik bersamaan dengan Oerlemans.

Setelah sepekan kemudian dibebaskan, Cantlie kembali diculik di tahun yang sama di Suriah oleh ISIS dan masih belum dibebaskan hingga sekarang.

Selain Oerlemans dan Cantlie, jurnalis asal Amerika Serikat, James Foley, juga turut diculik pada tahun 2012 dan tewas setelah dieksekusi mati oleh militan ISIS.

Penembak jitu dan bom rakitan menjadi andalan ISIS dalam menyerang musuhnya di wilayah mereka. Seorang dokter mengatakan, sniper ISIS ingin memastikan target mereka benar-benar tewas, atau setidaknya tidak akan bisa berperang lagi.

"Sniper biasanya menyerang tulang belakang. Mereka memilih tulang belakang karena bisa menyebabkan luka pada otak atau jantung jika selamat", kata Nabil Aqoub, dokter di Sirte September lalu.

Oerlemans meninggalkan seorang istri dan tiga anak yang masih kecil. Pria berusia 45 tahun ini pernah bertugas di berbagai wilayah konflik lainnya, seperti Afghanistan, Suriah dan Libya serta meliput perjalanan pengungsi menuju Eropa.

Duta Besar Belanda untuk Libya, Eric Strating, mengucapkan belasungkawa sembari memuji karya-karya Oerlemans selama meliput di daerah konflik.

Komisi untuk Perlindungan Jurnalis, CPJ, menyatakan bahwa Oerlemans adalah wartawan ke-10 yang tewas di Libya sejak konflik di negara itu dimulai pada 2011.

"Jurnalis banyak berdatangan ke Libya untuk meliput konflik dan pergolakan politik, tapi negara itu masih merupakan tempat yang luar biasa berbahaya. Kematian Jeroen Oerlemans jadi pengingat bahwa mereka yang menyajikan kisah dan gambar dari garis depan biasanya membayar dengan mahal", kata CPJ.

Kota pesisir Sirte adalah salah satu markas terakhir ISIS di Libya yang saat ini tengah digempur oleh tentara yang dibeking AS.

Al-Bunyan al-Marsous adalah salah satu organisasi militan yang terlibat dalam penyerbuan ISIS di Sirte. (CNN Indonesia)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.