Presiden Turki Tayyip Erdogan (Reuters)

Turki pada Rabu (26/10) mengatakan akan mempertahankan serangan militer di Suriah hingga ISIS berhasil dipukul mundur dari kota al-Bab, meskipun ada ancaman dari rezim Basyar al-Assad.

Serbuan Turki (bersama FSA) ke Suriah dimulai sejak dua bulan lalu untuk mengusir militan ISIS dari area perbatasan dan mencegah pejuang Kurdi dari mendapat lahan baru. Namun, situasi ini juga memperumit perang di utara Aleppo.

FSA yang didukung Turki bergerak ke arah selatan menuju kota al-Bab. Dimana mereka juga harus berhadapan dengan milisi Kurdi dan serangan udara Assad.

Pihak militer Turki mengatakan, helikopter rezim Suriah sempat melakukan pemboman pada FSA di dekat Akhtarin, sebuah kota yang terletak 5 km dari Dabiq, Selasa malam lalu. Dabiq adalah daerah yang berhasil direbut oleh FSA dari ISIS bulan ini.

Menanggapi tuduhan tersebut, komandan lapangan pasukan pro-Assad, memperingatkan bahwa semua serangan (asing) di utara dan timur Aleppo akan dihadang dengan "tegas dan melalui paksaan".

Sementara Presiden Tayyip Erdogan mengatakan operasi militer Turki di Suriah bertujuan untuk mengamankan kota al-Bab dan Manbij.

Manbij merupakan kota yang telah direbut kembali dari tangan ISIS oleh milisi Kurdi dan Arab (SDF) pada Agustus lalu. Adapun al-Bab adalah basis terakhir ISIS di wilayah itu.

"Mari kita bertempur bersama melawan organisasi teroris. Tapi Aleppo adalah milik rakyat Aleppo ... membuat perhitungan atas Aleppo adalah tindakan yang tidak benar", jelas Erdogan dalam pidato di Ankara.

Ini menjadi kali pertama adanya serangan militer Assad kepada oposisi dukungan Turki. Dua anggota FSA tewas dan lima terluka, kata sumber militer Turki.

Militer rezim Suriah tidak bisa segera dihubungi untuk memberikan komentar, tetapi sebelumnya menyebut kehadiran pasukan Turki di Suriah adalah "eskalasi berbahaya dan pelanggaran atas kedaulatan".

Mereka juga mengancam akan menembak jatuh setiap pesawat tempur Turki yang memasuki udara Suriah.

Bentrokan FSA dengan milisi Kurdi terjadi ketika 'Euphrate Shield' menyerang dekat kota Tall Rifaat yang diduduki SDF (mayoritas YPG).

Milisi Kurdi Suriah memang dianggap ancaman oleh Ankara dan Tall Rifaat dulunya dikontrol FSA, sehingga ingin diambil lagi.

Assad kemudian menggunakan hal itu sebagai alasan untuk mengancam operasi 'Euphrate Shield', karena Turki (asing) membom Kurdi Suriah. Pada awalnya operasi ini telah "direstui" Rusia. (Reuters)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.