Ilustrasi wanita Rohingya (Reuters)

Puluhan wanita dari etnis Muslim Rohingya mengaku telah menjadi sasaran kekerasan dan perkosaan tentara Myanmar yang menyerbu desa mereka.

Pengakuan ini disampaikan oleh delapan wanita Rohingya dari desa U Shey Kya di negara bagian Rakhine, sebagaimana dilansir dari Reuters.

Mereka mengatakan, tentara Myanmar menyerbu desa mereka, masuk ke rumah-rumah warga, menjarah harta benda dan memperkosa para wanita di bawah todongan senjata.

Pihak militer memang telah diturunkan ke Maungdauw sejak 19 Oktober, dengan alasan memburu kelompok militan Rohingya yang diduga terlibat serangan sehingga menewaskan sembilan polisi dan lima tentara serta mencuri senjata.

Wanita berusia 40 tahun dari U Shey Kya mengatakan, empat tentara telah memperkosanya dan menyerang putrinya yang berusia 15 tahun. Perhiasan dan uang miliknya juga dijarah.

"Mereka membawa saya masuk ke dalam rumah. Mereka merobek pakaian saya dan melepas kerudung saya", kata ibu dua anak ini saat diwawancara Reuters.

Juru bicara Presiden Myanmar Htin Kyaw, Zaw Htay, membantah pengakuan tersebut. Htay bahkan menelepon komandan militer di Maungdaw yang membenarkan ada penyerbuan pada 19 Oktober, namun membantah adanya perkosaan.

"Tidak logis memperkosa di tengah desa yang berisi 800 rumah, tempat pemberontak bersembunyi", ujar Htay.

Warga desa membenarkan terjadinya perkosaan dan perusakan properti oleh tentara. Beberapa rumah terlihat terbakar di desa itu. Menurut warga, tentara melakukan "operasi pembersihan".

Wanita Rohingya lainnya yang berusia 30 tahun juga mengaku diperkosa oleh tentara Myanmar.

"Mereka mengatakan kepada saya, 'Kami akan membunuhmu. Kami tidak akan membiarkanmu tinggal di negara ini", jelasnya.

Ia mengatakan, tentara menjarah emas, uang dan harta bendanya yang lain. Selain itu tentara juga memasukkan pasir di tempat penampungan beras di rumahnya.

"Kami tidak bisa pindah ke desa lain untuk berobat. Saya tidak punya pakaian atau makanan untuk dimakan. Semuanya dihancurkan. Saya merasa malu dan takut", kata wanita lainnya yang berusia 32 tahun.

Rohingya hidup menderita di Myanmar karena tidak dianggap sebagai warga negara oleh pemerintah.

Sebagai warga yang diabaikan, Muslim Rohingya tidak bisa menempuh pendidikan, mendapat pekerjaan atau layanan medis.

Mereka juga kerap terlibat bentrok dengan warga Buddha Rakhine. Ribuan Rohingya kabur ke luar negeri dengan perahu-perahu seadanya, beberapa terdampar di Aceh tahun lalu. (Reuters/CNN Indonesia)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.