Foto: Myanmar Tells Rohingya
Situs berita online Huffington Post baru saja menuliskan kutipan surat dari seorang akademisi yang juga penulis buku "The Rohingyas: Inside Myanmar’s Hidden Genocide", Dr Azeem Ibrahim.

Dalam surat tersebut, Azeem meminta kepada Sekjen PBB Ban Ki-moon untuk bertindak terhadap masalah Rohingya di Myanmar.

Berikut kutipan surat Dr Azeem Ibrahim yang dilansir dari Huffington Post:

Saya menulis kepada anda (Sekjen PBB) untuk mengungkapkan keprihatinan mendalam saya atas nasib orang-orang Rohingya di Myanmar. Saya yakin anda sudah familiar dengan situasi mereka yang sangat genting, kita telah melihat mereka tertatih-tatih dalam pembataian besar-besaran sejak 2012.

Namun, yang mendorong saya menulis surat ini adalah berita terbaru dari Myanmar yang muncul akhir-akhir ini:

Telah terjadi serangkaian serangan terhadap penjaga pos-pos perbatasan yang menewaskan 9 polisi Myarmar pada minggu lalu

Rohingya dianggap bertanggung jawab, kemudian polisi dan tentara di negara bagian Rakhine/Arakan melakukan lebih dari 100 pembunuhan ekstra-yudisial dan tanpa pertimbangan pada ratusan Rohingya, termasuk orang tua, wanita dan anak-anak.

Ketakutan yang dapat kita rasakan adalah kemungkinan kekerasan ini meningkat kembali seperti pada tahun 2012 atau 2013, ketika puluhan orang tewas, lebih dari 100.000 orang mengungsi ke kamp-kamp internal, dan banyak Rohingya diusir dari negara itu, memicu krisis migrasi Asia Tenggara yang memuncak pada musim semi tahun lalu.

Kekerasan yang baru terjadi mungkin dapat menjadi pemicu akhir pembantaian, sebagaimana yang ditakuti oleh PBB dan para pengamat dari LSM.

Hal yang membuat situasi saat ini menjadi berbahaya adalah kenyataan bahwa dalam krisis ini, Rohingya kemungkinan menjadi target oleh semua kelompok masyarakat Burma.

Secara historis, kaum minoritas Muslim berkulit gelap ini telah menjadi “musuh favorit” dari rezim militer di bawah pemerintahan Burma/Myanmar.

Setiap kali pemerintah memerlukan alasan mengenai sesuatu yang menggerogoti keberhasilan 'visi' mereka bagi negara, mereka mengkambing hitamkan Muslim di negara itu, terutama Rohingya.

Setiap kali mereka membutuhkan pengalih perhatian dari isu-isu nasional lainnya, beberapa konflik dengan Rohingya tiba-tiba akan terwujud.

Namun kekerasan pada tahun 2012-2013 tidak dipicu oleh pemerintah federal, ataupun negara bagian sekitar.

Propaganda anti-Rohingya selama beberapa dekade ini telah diserap dalam tradisi politik negara, dan sekarang ancaman terbesar bagi Rohingya adalah tetangga mereka, etnis Rakhine Buddha di Rakhine/Arakan.

Kelompok masyarakat sipil, partai politik nasionalis Rakhine, bahkan kelompok biksu terkenal adalah pelaku propaganda dan hasutan untuk kekerasan anti-Rohingya. Memang, dalam beberapa tahun terakhir, badan negara menjadi pasif dan terkadang membantu menurunkan ketegangan.

Tapi sekarang serangan ini didorong oleh lembaga penegak hukum dari negara setempat. Dan kelompok-kelompok masyarakat yang telah melakukan serangan dalam beberapa tahun terakhir akan menunggu giliran. Pintu air belum dibuka, tetapi mereka akan menerobos.

Satu-satunya hal yang dapat menghentikan peningkatan kekerasan, agar tidak mengulang skenario kejadian Rwanda, diperlukan intervensi dari pemerintah federal oleh Aung San Suu Kyi dalam menenangkan Rakhine/Arakan serta menegakkan aturan hukum.

Tapi seperti sebelumnya, pemerintah federal tidak akan tergesa campur tangan, dan Suu Kyi sepertinya belum juga bergerak pada situasi ini.

Untungnya, situasi tidak melampaui semua harapan. Suu Kyi diketahui sensitif terhadap opini internasional, dan memang banyak modal politiknya berasal dari negara Barat yang telah membuatnya sebagai juru kampanye demokrasi untuk negaranya.

Kita dapat meminta padanya agar menghadapi masalah ini sebagai hal yang mendesak, dan jika kita lakukan itu, kita tahu dia memiliki kekuatan politik serta modal sebagai pemimpin demokratis pertama dari negaranya dalam setengah abad ini, untuk melaksanakan apa yang perlu dilakukan.

Anda berada dalam posisi istimewa dalam membangun tekanan internasional yang dibutuhkan agar menggerakan Suu Kyi dan pemerintahannya untuk meredam kebangkitan kekerasan baru.

Saya mendorong anda mengambil alih masalah ini dan membantu mencegah adanya bencana kemanusiaan internasional baru.

Saya menyadari bahwa saat ini sulit untuk mendapatkan pesan penting diantara semua pemberitaan yang beredar, seperti Trump, Brexit dan Aleppo, kita hampir tidak memiliki energi untuk memproses segala sesuatu lain yang sedang terjadi di dunia.

Tapi jika kita tidak melakukan sesuatu tentang situasi Rohingya sebagai hal mendesak, masalah ini akan kembali menghantui kita sebagai malapetaka yang lebih besar – padahal mampu kita cegah.

Jika anda membutuhkan bantuan atau dukungan, terkait informasi terbaru atau kontak berbagai sumber, baik yang relevan dengan PBB maupun lembaga non-pemerintah, saya siap membantu anda. Jangan ragu untuk kembali berhubungan.
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.