Film Shalahuddin Al-Ayubi, (Sumber foto: Youtube)
Shalahuddin al-Ayyubi, sosok panglima perang ternama keturunan Arab Kurdi yang mampu mengalahkan serangan gabungan dari tentara Salib dan berhasil merebut kembali Baitul Maqdis ke tangan umat Islam.

Ia mempersatukan bangsa-bangsa Arab yang terpecah-belah menjadi sebuah kekuatan besar hingga akhirnya mampu merebut kembali al-Quds dari kekuasaan Tentara Salib.

Namun, sebelum kemenangannya atas Perang Salib itu, Shalahuddin al-Ayyubi juga sudah melakukan hal yang tidak kalah agung.

Ia berhasil menumpas kekuatan Syi'ah, Daulah Fathimiyyah yang berkuasa di kawasan Arab Maghrib (Maroko, Aljazair, Tunisia, Libya), terutama Mesir.

Mundur beberapa dekade sebelumnya, saat Mesir dikuasai Daulah al-Aksyidiyah, pemerintah Mesir tunduk pada kekhalifahan Baghdad, Irak, sebuah kota besar Islam Sunni yang menganut pada empat mazhab, terutama Syafi’iyah.

Akan tetapi, loyalitas Mesir terhadap Baghdad mulai melemah setelah pada tahun 324 H, Muhammad bin Raiq mampu menguasai Wasith dan wilayah-wilayah sekitarnya.

Sejak saat itu pemerintahan tidak berjalan dengan normal dan kantor-kantor tutup karena semua medan telah dikuasai oleh Raiq.

Akibatnya, al-Aksyidiyah, khalifah Mesir saat itu, menyatakan melepaskan diri dari Baghdad dan beralih untuk bergabung dengan Daulah Fathimiyah, sebuah kekuatan Syi'ah di wilayah Arab Maghrib (Afrika utara).

Pernyataannya tersebut kemudian harus diakhiri melalui jalan diplomasi yang bersepakat bahwa al-Akhsyid tetap menjadi khalifah Mesir dengan membayar 140 ribu dinar setiap tahun kepada Baghdad (an-Najm az-Zahirah, 3/252, 253).

Sejak saat itu, secara perlahan Mesir mulai bersentuhan dengan ajaran Syi'ah Ismailiyah dari Daulah Fathimiyah.

Syi'ah di Mesir
Selanjutnya Daulah Aksyidiyah dipimpin oleh Kafur. Selama dibawah kepemimpinannya, hubungan dengan Fathimiyah semakin erat. Daulah Fathimiyah diperbolehkan secara bebas memasuki wilayah Mesir.

Hingga tahun 357 H, setelah Kafur wafat. Kondisi pemerintahan Mesir menjadi goyah. Kemudian, di bawah komando Jauhar as-Siqili, Daulah Fathimiyah menyerang dan mampu menguasai Mesir.

Mereka menjadikan Mesir basis kekuatan Syi'ah di tanah Arab. Membangun masjid al-Azhar sebagai pusat peradaban Syi'ah.

Dan membangun ibukota baru bernama al-Qahirah (Kairo saat ini) sebagai pusat peradaban daulah ini. Mengubah sistem pemerintahan yang ada sebelumnya sesuai dengan ajaran Syi'ah.

Sistem tersebut membuat masyarakat Mesir, secara perlahan, mulai beralih dari Sunni menjadi didominasi Syi'ah.

Para missionaris Fatimiyah sangat gencar mengembangkan ajaran Syi'ah dan berhasil meraih pengikut yang banyak sehingga masa kekuasaan Fatimiyah dipandang sebagai era kebangkitan dan kemajuan Syi'ah Ismailiyah.

Meskipun para Khalifah berjiwa moderat, akan tetapi terhadap orang yang tidak mau mengakui ajaran Syi’ah Ismailiyah, bisa langsung dihukum bunuh.

Pada tahun 391 H khalifah al-Hakim membunuh seorang laki-laki yang tidak mau mengakui keutamaan Ali bin Abi Thalib, dan di tahun 395 H, al-Hakim juga memerintahkan agar di mesjid, pasar dan jalan-jalan ditempelkan tulisan yang mencela para sahabat.

Jelasnya, peranan agama (ideologi Syi'ah) sangat diperhatikan sekali oleh penguasa untuk tujuan mempertahankan kekuasaan. Buktinya, sikap tegas khalifah Fatimiyah terhadap orang yang tidak mau mengakui Ismailiyah dapat dianggap berakibat pada instabilitas negara.

Agar terjalin hubungan yang baik dengan rakyatnya yang berpaham Sunni, al-Hakim mulai bersikap lunak dengan menetapkan larangan mencela sahabat khususnya khalifah Abu Bakar dan Umar.

Al-Hakim juga membangun sebuah madrasah yang khusus mengajarkan paham Sunni, memberikan bantuan buku-buku bermutu sehingga warga Syi’ah dapat merasa senang berada di tengah kawasan Sunni.

Khalifah Fatimiyah juga melaksanakan doktrin Syi'ah lain dengan melarang menyebut-nyebut bani Abbasiyah dalam setiap khutbah Jum’at dan mengharamkan pemakaian jubah hitam serta atribut bani Abbasiyah lainnya. Pakaian yang dipakai untuk khutbah adalah berwarna putih.

Banyak diantara para Gubernur yang bersedia mengikuti ajaran Ismailiyah, padahal mereka sebelumnya adalah Gubernur yang diangkat khalifah Abbasiyah.

Sikap ini juga dilakukan oleh penganut Yahudi dan Nasrani. Sehingga mereka bersedia menganut Ismailiyah ketika ditawarkan memegang jabatan tertentu di dalam pemerintahan.

Lahirnya Shalahuddin al-Ayyubi
Pada tahun 532 H, Najmuddin Ayyub serta adiknya, Assaddin Syirkuh, hijrah dari Kurdi ke Irak. Pada tahun ini pula lah, Najmuddin Ayyub dikaruniai putra bernama Yusuf bin Najmuddin al-Ayyubi atau yang dikenal dengan Shalahuddin al-Ayyubi.

Najmuddin Ayyub adalah seorang penguasa di Saljuk, Tikrit, yang mengabdi pada Imadduddin Zanki, gubernur Saljuk untuk kota Tikrit, Irak.

Najmuddin kemudian diangkat menjadi gubernur Balsek dan membantu penguasa Suriah, Nuruddin Mahmud Zanki, putra dari Imadduddin Zanki.

Pada masa inilah Shalahuddin belajar bermacam-macam ilmu. Dimulai dari teknik perang, strategi, politik, dan mempelajari Islam Sunni.

Selama masa itu pula, berbagai wilayah kekuasaan Daulah Fathimiyah dilanda kegoncangan.

Pada tahun 1040-an M, Ziriyah (gubernur Afrika utara pada masa Fathimiyah) mendeklarasikan kemerdekaannya dari Fatimiyah dan berpindah ke Islam Sunni, menimbulkan serangan Bani Hilal yang menghancurkan.

Setelah tahun 1070, Fathimiyah mengendalikan pesisir Syam, sementara beberapa bagian Suriah terkena serangan bangsa Turki, dilanjut pasukan Salib, sehingga wilayah Fathimiyah menyempit sampai hanya meliputi Mesir.

Kemudian terjadi pula gejolak internal, dimana para petinggi Syi'ah yang saling bunuh demi mendapatkan jabatannya.

Hingga pada suatu kesempatan, Abu Sujak Syawar yang kalah oleh Dargam dalam pemilihan wazir (perdana menteri), meminta pertolongan kepada Nuruddin agar ia bisa menumpas Mesir yang dikuasai pesaingnya dengan menjanjikan sepertiga pendapatan negara kepada Nuruddin sebagai gantinya.

Nuruddin kemudian mengutus Assadin Syirkhuh dan Shalahuddin al-Ayyubi ke Mesir (Fathimiyah). Pasukan ini berhasil menumbangkan Dargam sehingga Syawar dapat memangku jabatan sebagai wazir di Mesir.

Namun, setelah akhirrnya Sawar menjadi wazir di Mesir, ia berkhianat atas janjinya.

Nuruddin justru mampu memenuhi permintaan khalifah Fathimiyah untuk mengusir tentara Salib di wilayah Fathimiyah, kini ia memiliki posisi yang kuat bagi Mesir. Begitu pula dengan Syirkuh, sehingga Syawar yang iri melihat Syirkuh bisa menjadi saingannya.

Syawar akhirnya meminta pertolongan kepada tentara salib (seperti halnya kepada Nuruddin dulu saat melawan Dargam). Tawaran ini diterima King Almeric selaku panglima perang Kristen yang memandangnya sebagai suatu kesempatan untuk menaklukkan Mesir.

Pertempuran pun pecah di Pelusium dan pasukan Syirkuh dapat mengalahkan pasukan salib. Syawar sendiri dapat ditangkap laku dihukum mati dengan memenggal kepalanya atas perintah khalifah Fathimiyah.

Dengan kemenangan ini, maka Shirkuh dinobatkan menjadi wazir dan pada tahun 565 H / 1117 M. Baru setelah Syirkuh wafat, jabatan wazir diserahkan kepada Shalahuddin al-Ayyubi.

Dimana ia betul-betul memanfaatkan jabatannya itu untuk mengarahkan negara Syi'ah Ismailiyah menuju Islam yang mencintai Al-Qur'an dan Sunnah.

Selanjutnya al-Ayyubi berhasil mengambil kekuasaan tertinggi setelah khalifah Fathimiyah yang terakhir, al-Adid, wafat.

Shalahuddin al-Ayyubi menaklukkan Syi'ah
Nuruddin Zanki memiliki cita-cita yang besar untuk dapat mengalahkan pasukan Salib dan mengambil alih kembali al-Quds ke tangan umat Muslim. Namun, Nuruddin sadar betul bahwa hal itu tidak akan bisa terwujud jika bangsa Arab masih terkotak-kotak, dan terpecah belah, mementingkan jabatannya masing-masing.

Intuisi Nuruddin juga menimbang keberadaan penganut Syi'ah bekas kekhalifahan Fathimiyah yang sangat merusak kesatuan bangsa Arab. Bahkan Nuruddin melihat kemenangan bangsa Arab bisa terjadi hanya apabila Syi'ah Fathimiyah diberantas lebih dulu.

Bukan tanpa alasan, Nuruddin sangat mengenal karakteristik kaum Syi'ah. Motif yang paling utama ialah karena Syi'ah memiliki teologi yang menyimpang. Teologi itu pula yang menyebabkan penyimpangan parah pada masyarakat Mesir.

Nuruddin ingin mengembalikan stabilitas Mesir yang selama ini telah mengalami kerusakan moral diantara para pejabatnya. Mereka tidak sungkan untuk membunuh sesamanya hanya untuk mendapat jabatan yang diinginkannya.

Motif lainnya ialah mimpi Nuruddin untuk menyatukan bangsa Arab menjadi sebuah barisan yang besar agar umat Islam menjadi kuat dan kokoh berada pada kesatuan.

Selain itu, Nuruddin ingin pula melenyapkan sifat penganut Syi'ah yang munafik (taqiyah) dan senang bersekongkol atau saling menjatuhkan.

Nuruddin akhirnya memberikan titah kepada Shalahuddin mengemban tugas menumpas habis tentara Salib dan merebut kembali al-Quds ke tangan Muslim.

Namun, tugas Shalahuddin itu harus dimulai dengan mengembalikan Mesir ke paham Sunni dan mengenyahkan paham Syi'ah tanpa sisa.

Hal ini sangat tidak mudah, karena di lain pihak juga ada yang menginginkan kekhalifahan Fathimiyah kembali berkuasa.

Untuk mengantipasi perlawanan dari sisa kalangan Fathimiyah, Shalahuddin kemudian membangun benteng bukit di Muqattam dan dijadikan sebagai pusat pemerintahan dan militer.

Sementara guna mengganti paham Syi'ah di negara, Shalahuddin mengubah isi buku yang ada di al-Azhar menjadi buku-buku Sunni.

Ia menjadikan al-Azhar sebagai pusat aktivitas pendidikan ke-Islaman dan peradaban. Mengedepankan Ulama-Ulama untuk mengajarkan kembali Islam kepada penganut Syi'ah.

Adapula langkah-langkah keras Shalahuddin bagi para penerus daulah Syi'ah Fathimiyyah dengan memeranginya hingga habis. Memenjarakan sampai menjatuhkan hukuman mati kepada mereka yang melakukan perlawanan.

Dengan begitu, perlahan namun pasti, Mesir berada sepenuhnya kembali ke dalam Islam, bersih dari penganut Syi'ah Fathimiyah tanpa adanya pemaksaan dan kekerasan kepada penduduknya.

Ada 5 langkah strategis yang dilakukan al-Ayyubi sehingga rakyat Mesir kembali menjadi Muslim Sunni secara massal dan takluknya seluruh sisa rezim Ismailiyah.

Pertama, meskipun menolak ideologi Syi'ah, tapi ia tetap mengutamakaan upaya memberi penyadaran secara persuasif, bahkan menggunakan cara-cara penuh hikmah (sumber: al-nawādir al-sulthāniyah wa al-mahāsin al-yusufiyah, karya: Ibnu Syaddād).

Kedua, al-Ayyubi tidak mengubah Daulah Fathimiyah secara frontal, namun bertahap memanfaatkan jabatannya dan mengatasi konflik politik internal pemerintahan.

Ketiga, mengubah dengan cara dialog intensif berdasarkan hujjah yang kuat untuk mengajak masyarakat ke ajaran Islam yang benar.

Keempat, mendirikan dan memperbanyak madrasah-madrasah Ahlusunnah Wal-Jama'ah, sebagai upaya konkrit mengubah pandangan yang rusak.

Kelima, ketika ada yang mencoba melakukan kudeta (seperti yang dilancarkan Umārah bin Ali), maka Shalahuddin menindaknya dengan tegas agar negara yang ingin diperbaikinya tetap bertahan tanpa chaos. (Hidayatullah/rslh)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.