Raja Salman bertemu as-Sisi (foto),
Dua sekutu dekat di kawasan Arab, Mesir dan Arab Saudi menunjukkan ketidaksepakatan serius untuk pertama kali di hadapan publik sejak Abdul Fatah as-Sisi menjadi presiden Mesir 2013 lalu.

Kekecewaan Riyadh muncul setelah Kairo mengambil sikap mendukung draft resolusi PBB yang diajukan Rusia pada rapat Dewan Keamanan hari Sabtu (8/10) lalu.

Dubes Saudi untuk PBB, Abdullah al-Muallami, menyebut sikap Mesir sebagai "bertekuk lutut pada Rusia", dan menganggapnya merupakan sesuatu yang "menyakitkan".

Rusia memveto rancangan resolusi yang diajukan Perancis tentang Suriah, yang menuntut diakhirinya serangan udara dan penerbangan militer di Aleppo.

Moskow kemudian mengajukan rancangan tandingan, namun gagal memperoleh jumlah dukungan minimal 9 anggota DK PBB.

"Sikap Senegal dan Malaysia jauh lebih sesuai dengan keputusan yang disepakati Arab", kata Muallami, dibandingkan dengan putusan anggota Liga Arab, Mesir.

Mesir memang memberikan dukungan suara kepada draft yang diajukan Rusia.

Dubes Mesir untuk PBB, Amr Abu Atta, mengatakan bahwa pihaknya mendukung semua upaya untuk menghentikan kekerasan di Suriah.

"Mesir adalah pendukung penghentian penargetan warga sipil Suriah dan mendukung bantuan kemanusiaan, serta penghentian pertempuran, sesuai resolusi Dewan Keamanan", katanya.

Kairo mengambil sikap terpisah, dengan mendukung semua rancangan resolusi yang dibahas hari itu, baik yang diajukan Perancis maupun Rusia.

Namun dukungan pada rancangan versi Rusia memunculkan kekecewaan dari dunia Arab. (AP/Al-Arabiya)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.