gbr: ilustrasi
Senin (31/10) Kerajaan Arab Saudi memutuskan mencopot Menteri Keuangan seniornya, Ibrahim al-Assaf. Langkah ini menyusul kebijakan Kerajaan itu yang sedang melakukan restrukturisasi ekonomi, akibat turunnya pendapatan dari minyak.

AFP melansir pada Selasa (1/11) bahwa Ibrahim dipindahkan posisinya dengan perintah yang diberikan langsung oleh Raja Salman serta segera dipublikasikan media setempat.

Posisi menteri keuangan kini diisi oleh Mohammed al-Jadaan, yang sebelumnya menjabat sebagai kepala otoritas pasar modal Arab Saudi, sejak Januari 2015.

Assaf merupakan pemegang gelar doktor bidang ekonomi dan kini berusia 67 tahun, ia sudah menjabat sebagai Menteri Keuangan selama 20 tahun.

Kendati dicopot dari menteri keuangan, Assaf akan tetap berada dalam kabinet, namun ditugaskan menjadi menteri lain.

Dilansir dari Detikcom, sejak 2014, harga minyak dunia jatuh hingga 50%. Kondisi ini mengharuskan Arab Saudi cepat-cepat meninggalkan ketergantungannya terhadap minyak. Kondisi keuangan Arab Saudi menurun.

Eksportir minyak terbesar dunia ini memperkirakan, anggaran negaranya di tahun ini akan defisit USD 87 miliar.

Kondisi ini membuat Arab Saudi melakukan penghematan, termasuk memangkas subsidi, dan mengurangi gaji para menteri, serta menunda sejumlah proyek-proyek pembangunan.

Awal tahun ini, Pangeran Mohammed bin Salman yang mengepalai ekonomi kerajaan, mengumumkan sejumlah rencana di bidang ekonomi untuk mengurangi ketergantungan terhadap minyak, yang disebut visi 2030.

Kondisi defisit yang dialami membuat Kerajaan Arab Saudi untuk pertama kalinya harus menjual surat utang (obligasi) global yang nilainya USD 17,5 miliar.

Penurunan harga minyak juga membuat cadangan devisa Arab Saudi turun menjadi USD 562 miliar di Agustus 2016, dari USD 732 miliar di akhir 2014 lalu.

Seperti diketahui, pada Januari lalu, harga minyak sempat turun ke bawah USD 30/barrel, atau tingkat terendahnya dalam 10 tahun terakhir. Di pertengahan 2014, harga minyak masih di atas USD 100/barrel.

Diyakini penurunan harga minyak ini adalah akibat putusan Saudi sendiri untuk menggenjot produksi hariannya, dalam rangka "perang minyak" dengan pesaingnya di konflik internasional, terutama Rusia dan Iran. (detik)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.