Serangan gas kimia di Ghota timur, Agustus 2013 (foto HRW),
Penyelidikan internasional menemukan bahwa pasukan rezim Suriah bertanggung jawab atas serangan gas kimia beracun, sebagaimana laporan rahasia yang disampaikan kepada Dewan Keamanan PBB Jum'at (21/10), dikutip oleh Reuters.

Dalam laporan kali keempat, dari hasil penyelidikan selama 13 bulan ini, pasukan Assad disalahkan atas serangan gas beracun di Qmenas, Idlib, pada 16 Maret 2015.

Penyelidikan tersebut dilakukan oleh PBB dan Organisasi untuk Pelarangan Senjata Kimia (Organization for the Prohibition of Chemical Weapons/OPCW).

Adapun pada laporan ketiga, yang diterbitkan pada Agustus lalu, juga menyalahkan rezim Assad atas dua serangan gas klorin, yaitu di Talmenes pada 21 April 2014 dan Sarmin pada 16 Maret 2015.

Laporan juga mengungkap ISIS telah menggunakan gas belerang mustard.

Hasil tersebut menyebabkan adanya diskusi anggota Dewan Keamanan PBB, terutama lima negara pemegang hak veto. Yaitu Rusia, Cina, Inggris, Amerika Serikat dan Prancis.

Rusia sebagai pembela Assad mengatakan jika kesimpulan laporan tersebut tidak dapat digunakan untuk menjatuhkan sanksi PBB.

Isi laporan mengungkapkan bahwa pasukan rezim Suriah menggunakan helikopter untuk menjatuhkan bom Birmil (barrel/drum), yang kemudian disusul dengan gas klorin.

Helikopter berasal dari dua pangkalan tempat skuadron 253 dan 255 berada.

Penyelidikan difokuskan di sembilan serangan di tujuh wilayah Suriah, dimana OPCW telah menemukan indikasi adanya penggunaan senjata kimia.

Delapan dari serangan tersebut melibatkan penggunaan gas klorin, sedangkan sebanyak lima kasus belum ditemukan kesimpulannya.

Penggunaan klorin sebagai senjata ditetapkan terlarang pada tahun 1997 dalam Konvensi Senjata Kimia.

Gas klorin diketahui berubah menjadi asam klorida ketika dihirup. Paru-paru manusia yang menghisapnya menjadi terbakar, mengeluarkan cairan tubuh yang berlebih sehingga menyebabkan kematian.

Suriah sendiri telah bergabung dalam perjanjian pada tahun 2013 dan setuju untuk menghancurkan senjata kimianya. Sementara laporan penggunaan di wilayah oposisi terus terjadi.

DK PBB mengikat perjanjian dengan syarat, jika terdapat ketidakpatuhan, termasuk pengalihan tidak sah senjata kimia, atau penggunaan senjata kimia oleh siapapun di Suriah, akan diberikan tindakan sesuai dengan Bab 7 Piagam PBB.

Bab 7 berisi sanksi dan otorisasi penggunaan kekuatan militer oleh Dewan Keamanan.

Agustus 2013 lalu, Assad dilaporkan menggunakan gas kimia Sarin di Ghouta timur, namun tak ada resolusi DK PBB atasnya karena perlindungan Rusia.

AS dan Rusia kemudian sepakat melucuti senjata kimia milik Assad, tanpa kejelasan penyelidikan dan sanksi atas serangan gas Sarin yang membunuh lebih dari 1.300 warga sipil.
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.