Potret kehancuran pemukiman Aleppo akibat serangan Assad/Rusia (foto),
PBB mengatakan durasi jeda serangan di Aleppo yang dibuat Rusia terlalu minim, tidak cukup untuk menyalurkan bantuan.

Utusan khusus PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura, mengatakan durasi selama 8 jam hanya cukup untuk mengevakuasi 200 orang saja.

Sedangkan masih ada lebih dari 2.000 orang terluka akibat serangan militer Assad dan Rusia, serta sekitar 400 jiwa meninggal dunia, sejak 22 September lalu.

Besarnya jumlah korban warga sipil, mengundang kecaman internasional kepada Moskow, seperti munculnya pernyataan Washington yang mengatakan pemboman itu mungkin kejahatan perang.

Moskow membantahnya, dengan mengklaim bahwa semua itu merupakan propaganda untuk menutupi keberadaan "jihadis", yang masuk blacklist PBB, di wilayah oposisi Suriah.

Rusia dan Assad memang menggunakan alasan adanya kelompok Jabhah Fathu Syam (JFS) sebagai alasan terus membom Aleppo, dimana JFS adalah bekas al-Qaeda.

Sebelumnya PBB, melalui de Mistura membujuk JFS agar keluar dari kota itu, sehingga tak ada lagi "alasan empuk" untuk terus mengebom kota.

Namun JFS dan oposisi lainnya menegaskan mereka akan terus berjuang mempertahankan kampung halamannya.

Mereka menganggap alasan Rusia dan Assad hanya "propaganda licik" untuk mengusir pejuang oposisi serta warga sipil (penentang Assad) dari kota itu, sehingga membawa kemenangan bagi rezim Damaskus.

Oposisi juga merencanakan keinginan untuk menembus pengepungan atas Aleppo timur yang telah berlangsung lebih dari 1,5 bulan.

Moskow ditekan
Presiden Rusia, Vladimir Putin, mengadakan pembicaraan alot dengan pemimpin Perancis dan Jerman di kota Berlin, pada Rabu (19/10), tentang krisis Suriah. Dimana muncul isu kemungkinan perpanjangan gencatan senjata sepihak.

Sementara Presiden Perancis, Francois Hollande, mengutuk pemboman kota Aleppo, dengan menyebut konflik itu sebagai "kejahatan perang".

Adapun Kanselir Jerman, Angela Merkel, menggambarkannya dengan kalimat "tidak manusiawi dan kejam".

Analis Suriah Thomas Pierret, dari University of Edinburgh, menilai penghentian serangan udara sementara oleh Rusia hanyalah ‘strategi’ Moskow setelah menghadapi tekanan internasional.

"Rusia secara berkala selalu mencoba mengurangi ketegangan dengan Barat atas serangan di Aleppo melalui inisiatif seperti itu. Ini adalah kelanjutan perang dengan cara diplomatik", katanya.

Lima tahun upaya mengakhiri konflik Suriah selalu gagal, tapi dalam seminggu ini kekuatan dunia mencoba membuat upaya baru untuk gencatan senjata permanen.

Selain KTT Berlin, pembicaraan juga berlangsung pada hari Rabu di Jenewa antara pejabat Rusia dan AS serta perwakilan pendukung oposisi, yaitu Qatar, Arab Saudi dan Turki agar memisahkan oposisi dari jihadis (JFS). (AFP/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.