Ilustrasi gencarnya pembangunan pemukiman Yahudi ilegal (foto),
Israel harus menghadapi konsekuensi atas kehendaknya yang tidak mengindahkan seruan internasional untuk menghentikan pembangunan pemukiman Yahudi di tanah Palestina, ujar utusan Palestina kepada Dewan Keamanan PBB pada hari Rabu.

Duta Besar Palestina, Riyad Mansour menuduh Israel telah berupaya mengikis prospek masa depan negara Palestina dan menciptakan "satu negara" yang nyata menjadi negara apartheid (rasis).

"Seruan global penghentian upaya Israel untuk membangun permukiman dan kejahatan terhadap rakyat Palestina, harus didukung dengan langkah-langkah praktis yang serius dan memaksa Israel mematuhi hukum", kata Mansour perdebatan dewan di Timur Tengah.

"Harus ada konsekuensi jika Israel terus melanggar hukum internasional", tuntutnya.

PBB menegaskan pemukiman tersebut adalah ilegal dan telah berulang kali memanggil Israel agar menghentikan upaya mereka, namun para pejabat PBB tetap menerima laporan lonjakan konstruksi selama beberapa bulan terakhir.

Utusan PBB, Nickolay Mladenov mengatakan kepada dewan bahwa Israel terus menekan pembangunan pemukiman baru, mengutip keputusan Israel baru-baru ini yang akan membangun 98 unit awal dari 300 unit perumahan di Shilo, di Tepi Barat.

Mladenov mengatakan rencana penyelesaian pembangunan ini akan membuat “perpecahan antara utara dan selatan Tepi Barat dan membahayakan kedekatan negara Palestina di masa depan".

Pemerintah Arab sedang membahas usulan dokumen resolusi Dewan Keamanan yang menuntut penghentian pembangunan permukiman Israel, meskipun upaya yang sama telah diveto oleh Amerika Serikat pada tahun 2011.

Menteri Arab akan bertemu akhir bulan ini di Kairo untuk memutuskan apakah akan meneruskan upayanya dan menyampaikannya kepada dewan.

Duta Besar Israel, Danny Danon tidak menyebutkan permukiman dalam sambutannya, tapi ia terlihat berupaya mengisukan panggilan itu sebagai "panggilan resolusi sepihak terhadap Israel."

Danon mengecam resolusi yang diresmikan UNESCO pada minggu ini. UNESCO mengutuk tindakan Israel yang membatasi akses menuju Masjid Al-Aqsa di Yerusalem timur, yang dikenal sebagai ‘Temple Mount’ Yahudi.

"Upaya-upaya untuk memotong kita dari tanah air kita dan warisan kita, tidak akan berhasil. Kami akan tetap di tanah kami dan di ibukota kami tetap Yerusalem, selamanya", kata Danon. (Al-Arabiya)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.