Ilustrasi bantuan di Myanmar (foto WFP),
Program Pangan PBB (WFP) menyatakan bahwa pengiriman bantuan pangan yang direncanakan akan disalurkan bagi 80 ribu warga Rohingya di negara bagian Rakhine telah diblokir oleh tekanan militer Myanmar.

Akses ke wilayah utara Myanmar yang didominasi warga Muslim Rohingya juga telah ditutup. Penutupan ini terjadi setelah serangan terhadap pos polisi yang diduga dilakukan oleh pejuang Rohingya.

Oleh karena serangan itu pula, kini tentara pemerintah terus ditambah, ungkap WFP dalam sebuah pernyataan pada hari Rabu.

WFP biasanya mampu memberi makan 80.000-85.000 orang di daerah yang terkunci ini, dekat perbatasan antara Myanmar dan Bangladesh. Akan tapi pengiriman bantuan kali ini telah terganggu dan militer mencegah pasokan apapun dan darimana pun.

Negara bagian Rakhine merupakan wilayah kelompok minoritas Muslim Rohingya yang diduga telah menghadapi penganiayaan terorgansir sejak kerusuhan pecah pada tahun 2012.

"Ada militer di mana-mana juga pemberlakuan jam malam di tempat. Tidak mungkin untuk mengakses salah satu daerah itu", kata Arsen Sahakyan, petugas kemitraan WFP di Myanmar.

"Daerah-daerah yang terkena dampak itu adalah tempat kami biasanya beroperasi", lanjutnya.

Menurut media pemerintah, aparat keamanan telah menewaskan sedikitnya 30 orang sejak serangan pos polisi. Penghitungan resmi terbaru menunjukkan sedikitnya 40 orang ditahan.

Sementara aktivis menyebutkan kekerasan yang dilakukan semakin tidak terelakan. Pasukan militer menembak warga sipil Muslim hingga tewas dan membakar desa-desa mereka.

Namun pasukan militer mengklaim bahwa mereka hanya menangkal serangan saja.

Pemerintah telah menunjuk kelompok bersenjata "Aqamul Mujahidin" sebagai pelaku serangan dan mengatakan bahwa ratusan pejuang mereka merencanakan serangan yang lebih besar.

Kerusuhan ini telah memunculkan kekhawatiran terulangnya tragedi yang terjadi pada tahun 2012. Konflik etnis-reliji yang menewaskan ratusan orang dan mengungsikan ratusan ribu Muslim Rohingya ke kamp-kamp kumuh.

Sekitar 125.000 warga Rohingya hidup terlantar, menghadapi pembatasan segala gerak mereka, termasuk pembatasan pendidikan dan akses makanan yang dilakukan di kamp-kamp kumuh.

Baru-baru ini terjadi ketegangan baru antara masyarakat Buddha Rakhine dengan Muslim Rohingya. Hal ini menuimbulkan kekhawatiran bahwa kerusuhan antara dua kelompok akan menyebar ke wilayah lain.

WFP telah melakukan upaya bantuan dengan pengiriman ulang bantuan kepada 6.000 pengungsi yang telah kekurangan pangan sejak beberapa bulan lalu.

Banyak warga Buddha Rakhine -yang juga merupakan masyarakat miskin di Myanmar- tidak suka bantuan internasional diberikan kepada Rohingya.

Pada tahun 2014, sebagian besar badan-badan bantuan menarik diri dari negara itu setelah massa Buddha menggeledah kantor dan gudang mereka, menuduh mereka mendukung Muslim.

Kemarahan yang ditunjukkan di luar biara di Maungdaw, yang menjadi kamp pengungsi darurat untuk Buddha Rakhine, terdapat tulisan: "Kami tidak membutuhkan dukungan dari PBB, LSM internasional - negara Maungdaw Rakhine".

Pada bulan Juni, PBB mengatakan pelanggaran sudah semakin meluas terhadap Muslim Rohingya, termasuk penolakan kewarganegaraan karena mereka dituduh sebagai imigran ilegal, serta mengalami kerja paksa dan kekerasan seksual.

PBB juga menyatakan tindakan ini sebagai "kejahatan terhadap kemanusiaan".

Uni Eropa, pada bulan Juli, mendesak pemerintah Myanmar untuk mengakhiri "penindasan brutal" dan "penganiayaan sistematis" Rohingya, namun permintaan mereka agar akses ‘bebas hambatan’ ke daerah-daerah tempat Muslim Rohingya menjadi sasaran, sebagian besar telah diabaikan. (Al-Jazeera)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.