Shalat berjama'ah dekat Colosseum, Roma
Ratusan Muslim menggelar shalat Jum'at di dekat Colosseum di Roma guna memprotes penutupan sejumlah masjid di Italia.

Aksi itu digelar terkait pembatasan kebebasan melaksanakan ajaran agama di Italia, ungkap pihak penyelenggara, serta mengajak warga Muslim memprotes penutupan sementara lima masjid dengan alasan administrasi baru-baru ini.

Saat berunjuk rasa, sebagian orang mengusung plakat bertuliskan “Perdamaian” dan “buka masjid-masjid”.

Banyak Muslim Italia menilai pihak berwenang bertindak atas kecurigaan, akibat serangkaian aksi teror oleh pelaku Muslim di Eropa belakangan ini, dengan menutup tempat ibadah karena alasan sepele, seperti kurangnya jumlah toilet.

Protes diorganisir oleh kelompok migran asal Bangladesh, Dhuumcatu. Kelompok itu mengeluhkan penutupan sejumlah tempat ibadah dengan alasan melanggaran aturan bangunan.

Mereka ingin agar pihak pemerintah kota turun tangan, seperti dikutip Hidayatullah dari Al-Jazeera (21/10).

“Kami merasa orang-orang menudingkan jarinya ke arah kami”, kata Francesco Tieri, seorang mualaf yang bertindak sebagai koordinator beberapa kelompok Muslim di Italia.

“Tidak ada kemauan politik untuk mengakui keberadaan kami di sini dan bahwa kami adalah komunitas damai. Kami dipaksa menyewa tempat untuk dijadikan tempat ibadah, yang bagi kami pentingnya sama seperti udara. Jika kami tidak melakukannya, kami akan mati”, imbuh Tieri.

Politisi Barbara Saltamartini, dari kelompok anti-imigrasi Partai Liga Utara, menyebut unjuk rasa hari Jum'at itu sebagai “provokasi yang tidak dapat diterima”, dan seharusnya tidak diperbolehkan terjadi di Roma.

Polisi mengkonfirmasi adanya penutupan sejumlah tempat ibadah. Dalam sebuah pernyataan, polisi mengatakan pihak berwenang menjamin kebebasan berpikir, tetapi dalam batasan hukum.

Di Italia, Islam bukanlah agama yang diakui secara resmi oleh negara, tidak seperti Yudaisme (Yahudi) dan Mormon (aliran sekte Kristen). Banyak Muslim pendatang dari Afrika Utara dan Asia Selatan merasa didiskriminasi karena ras dan juga agama mereka.

Berdasarkan data resmi, terdapat lebih dari 800.000 Muslim yang tinggal di Italia secara legal, dan diperkirakan 100.000 lainnya tinggal permanen di sana tanpa dokumen resmi.

Angka itu menunjukkan komunitas Muslim mencakup 1,5 persen dari populasi Italia dan Islam adalah agama kedua di negara itu yang paling banyak pengikutnya setelah Katolik Roma.

Sebagian besar tempat shalat terdapat di rumah-rumah atau pusat-pusat kebudayaan Islam. Hal itu menurut politisi sayap kanan membuat sulit dimonitor, sehingga meningkatkan resiko “radikalisasi”.

Menteri Dalam Negeri Angelino Alfano mengatakan pada bulan Agustus lalu bahwa “masjid-masjid mini di garasi” seharusnya tidak diperbolehkan.

Partai-partai beraliran sayap kanan menyeru agar diberlakukan pelarangan menyeluruh atas masjid yang didirikan dengan donasi dari luar Italia.

Di Roma terdapat masjid terbesar di dunia Barat, tetapi proposal untuk mendirikan masjid bergaya arsitektur tradisional di tempat-tempat lainnya seringkali mendapat penentangan dari pemerintah setempat. (Hidayatullah)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.