Puan Maharani dan Titik Soeharto (kiri), (foto),
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani, mengikuti prosesi kirab malam 1 Suro di Pura Mangkunegara, Solo, Minggu malam, 2 Oktober 2016.

Yang menarik, hadir di dekat Puan adalah putri mantan Presiden Soeharto, Titik Soeharto.

Dalam ritual kirab tersebut, sebanyak 7 pusaka tombak diarak mengelilingi Istana Pura Mangkunegara.

Perayaan malam 1 Suro di Pura Mangkunegara diawali dengan prosesi upacara pelepasan pusaka yang dipimpin langsung oleh KGPAA Mangkunegara IX.

Setelah pelepasan, iring-iringan pusaka sebanyak 7 buah tombak diarak. Puan dan Titiek terlihat berada di barisan paling depan. Mereka berjalan beriringan mengelilingi tembok Istana Pura Mangkunegara.

Para peserta melakukan topo bisu alias puasa bicara selama mengelilingi tembok Mangkunegara. Usai berkeliling selama 45 menit, iring-iringan kirab pusaka tiba kembali di pendopo Mangkunegara.

Selanjutnya, para peserta kirab, termasuk Puan dan Titiek, dipersilakan duduk di dalam paringgitan bersama kerabat Mangkunegara, serta tamu VIP.

Diantara para tamu tampak Kapolda Jawa Tengah Inspektur Jenderal Polisi Condro Kirono, anggota DPR RI dari PDIP, Aria Bima dan Bambang Wuryanto.

Puan dan Titiek kembali dipertemukan dengan duduk berdampingan di barisan kursi paling depan. Kedua putri mantan presiden itu terlihat akrab dan saling berbicara. Bahkan, sesekali mereka terlihat tertawa bersama tanpa ada rasa canggung.

Ketika disinggung soal posisi duduknya yang berdampingan dengan putri Soeharto, Puan mengatakan dirinya tidak ada masalah dengan Titiek.

"Ya enggak apa-apa kan saya dan mbak Titiek duduk berdampingan. Saya dan mbak Titiek sudah seperti keluarga", katanya usai mengikuti acara kirab malam 1 Suro di Pura Mangkunegara, Minggu malam (2/10), dikutip dari Vivanews.

Puan juga mengungkapkan, ia telah mengenal baik dengan Titiek sejak lama.

"Dari muda hingga kini kenal baik dengan keluarganya," ujarnya.

Seperti diketahui, satu Suro adalah hari pertama dalam kalender Jawa di bulan Sura atau Suro, bertepatan dengan 1 Muharram dalam kalender hijriah.

Satu Suro diperingati pada malam hari setelah Maghrib, hari sebelum tanggal satu jika dilihat dari kalender Masehi. Karena pergantian hari terjadi setelah matahari terbenam, sehingga disebut dengan malam satu Suro. (Vivanews)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.