Antrian para pencari suaka (foto),
Sami Farah (23), seorang terapis musik asal Suriah, akhirnya bisa menetap di rumah barunya di Berlin.

Ia merupakan salah satu di antara hampir 900.000 pengungsi non-Uni Eropa yang datang ke Jerman tahun lalu, sebuah gelombang pengungsi yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dibantu oleh kelompok aktivis Jobs4refugees, ia kini telah menemukan pekerjaan sebagai seorang pencuci piring di hotel.

Setelah satu tahun tinggal di Jerman, Sami akhirnya dapat berbahasa Jerman. Saat ini ia tinggal bersama dua temannya di sebuah flat di Berlin.

Ia mendapat pekerjaan di sebuah dapur hotel, setelah menunggu lima bulan untuk ijin kerja.

Upah yang ia peroleh merupakan upah minimum sebesar Euro 8.5 (sekitar Rp120 ribu) per jam, yang hanya cukup untuk membiayai hidup sendiri dan membayar tagihan-tagihan serta biaya-biaya hukum.

Namun, ia mengaku memiliki teman-teman yang baik dan atasan yang sangat mendukung.

Meski begitu, hari-hari kelam tetap membayangi Sami dan para pengungsi lain di saat mereka sadar tidak dapat bersama dengan keluarga di hari penting, seperti acara pernikahan saudara.

Beberapa pihak masih menolak untuk mengakui Sami sebagai seorang pengungsi resmi. Ia hanya mendapat status perlindungan tambahan, dengan masa tinggal selama satu tahun.

Bahkan, terkadang Sami harus menunggu selama 10 jam di Kantor Urusan Sosial dan Kesehatan (LaGeSo) hanya untuk direndahkan oleh sejumlah petugas keamanan dan karyawan.

“Terkadang kita juga harus menunggu sambil kedinginan di luar gedung selama delapan jam, dalam antrian yang tidak pernah berakhir”, cerita Sami.

Namun, ia mencoba untuk tetap positif dan optimis, dengan bertemu orang-orang baru dan belajar dari mereka.

“Pada saat saya perlu keluar dari zona nyaman dan mencoba hal-hal baru selalu ada berbagai pengalaman, sebagian berakhir buruk, namun beberapa telah mengubah hidup saya”, jelasnya.

Sami tetap memiliki kekhawatiran mengenai adanya diskriminasi dari kelompok-kelompok ekstrimis lokal anti-pengungsi.

“Saya khawatir dengan keselamatan kerabat saya di Suriah, hanya sedikit yang berhasil meloloskan diri ke Jerman. Saya khawatir dengan keuangan keluarga saya, karena keamanan untuk bekerja sangat minim bagi warga Suriah di Yordania”, keluhnya.

“Saya tidak akan berbohong, saya merasa tidak aman. Tapi sekali lagi, semangat mendorong kita untuk percaya pada masa depan yang lebih baik, untuk berharap bahwa hidup akan normal kembali", harapnya.

"Anda tahu, hal-hal yang biasa dilakukan: bisa belajar, memiliki karir, dan memiliki keluarga suatu saat nanti. Saya menginginkan hal yang sama dengan yang Anda inginkan, yaitu sebuah kehidupan”, pungkasnya. (CNN Indonesia)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.