Gambaran pejara Guantanamo (foto),
Belasan tahun berada di bawah tahanan negara asing, di pulau asing, jauh dari negaranya, itulah yang dialami Muslim Afrika ini.

Bukan penjara sembarangan, namun Guantanamo yang ditujukan untuk "mengurung teroris" ancaman bagi AS.

Tahanan berkebangsaan Mauritania, yang menulis sebuah memoar tentang siksaan panjang di penjara militer AS Teluk Guantanamo, telah kembali ke negara asalnya.

Kabar tersebut dikeluarkan oleh Departemen Pertahanan AS, pada Senin (16/10), sebagaimana dilansir dari Reuters.

Mohamedou Ould Slahi, penulis "Guantanamo Diary", dibebaskan setelah dewan peninjau menentukan bahwa penahanannya tidak diperlukan lagi. Ia tidak lagi dianggap sebagai ancaman bagi keamanan AS.

Kepulangannya mengurangi jumlah tahanan yang ada di fasilitas khusus untuk menahan tersangka terorisme atas serangan 11 September 2001, menjadi 60 orang. Sembilan belas dari mereka telah dibebaskan.

Slahi tiba di Guantanamo sejak Agustus 2002. Ia telah ditahan tanpa tuduhan atau pengadilan.

Presiden Barack Obama mengadakan diskusi terkait Slahi sebagai salah satu upaya dalam mengurangi jumlah tahanan sebelum ia habis masa jabatannya sebagai presiden pada Januari mendatang.

Obama berjanji untuk menutup pusat penahanan kontroversial di Kuba ketika menjadi presiden pada Januari 2009.

Hal tersebut sulit dilaksanakan karena menghadapi penentangan keras di Kongres AS, sebagian besar dari Partai Republik. Yang malah mengharapkan Donald Trump memperluas penjara tersebut.

Slahi menjadi salah satu tahanan Guantanamo yang menonjol karena pada 2015 lalu ia mempublikaskan sebuah memoar.

Ia menjelaskan tahun-tahun penahanannya dan proses interogasi, termasuk saat ia menjalani pemeriksaan dengan cara kasar, yang bisa dibilang sebagai penyiksaan.

Slahi awalnya dicurigai sebagai perekrut senior untuk al Qaeda. Namun, pengacaranya menyatakan bahwa hubungan Slahi dengan mereka hanya terbatas pada awal 1990-an, ketika ia pernah berjuang di Afghanistan dengan mujahidin anti-komunis.

"Saya merasa bersyukur dan berterima kasih kepada orang-orang yang telah berdiri disamping saya", kata Slahi dalam pernyataan yang dirilis oleh American Civil Liberties Union.

"Saya datang untuk belajar bahwa kebaikan itu bisa terjadi, walau berbeda kebangsaan, budaya, maupun etnis. Saya senang dapat bersatu kembali dengan keluarga saya", katanya. (Reuters)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.