Persidangan pelaku perkosaan almh. Yuyun (foto),
Satu dari enam terdakwa kasus pemerkosaan dan pembunuhan siswi SMP bernama Yuyun dijatuhi hukuman mati oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Curup, Provinsi Bengkulu, Kamis pekan lalu (29/9).

Dalam putusannya, majelis hakim menyatakan Zainal alias Bos terbukti memerkosa dan membunuh Yuyun.

Dasar hukum yang digunakan untuk menjerat laki-laki 23 tahun ini adalah Pasal 340 KUHP junto Pasal 55 KUHP, Pasal 80 Ayat (3) dan Pasal 81 Ayat (1) juncto Pasal 76 huruf d Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak.

Vonis yang dijatuhkan majelis hakim sama dengan tuntutan Jaksa Penuntut Umum, Arlya Noviana Adam.

"Ya, itu sudah sesuai tuntutan", kata Arlya usai sidang, sebagaimana dikutip BBC Indonesia dari wartawan Bengkulu, Rika Kurnia Ningsih.

Selain Zainal, empat terdakwa, yakni Suket (19), Faisal (19), Bobi alias Tobi (20), dan Dedi dijatuhi hukuman 20 tahun penjara dan denda sebesar Rp 2 miliar. Mereka terbukti secara sah dan meyakinkan telah memerkosa serta membunuh Yuyun.

Seorang terdakwa lainnya sebenarnya juga dituntut dengan pasal-pasal serupa. Namun, karena dia masih berusia 13 tahun, hakim Heny Faridha memutuskan untuk menjatuhkan hukuman rehabilitasi dan pelatihan kerja di Lembaga Penyelenggara Kesejahteraan Sosial (LPKS) Marsudi Putra Jakarta Timur selama satu tahun.

Kasus ini bermula ketika Yuyun, seorang siswi SMP Padang Ulak Tanding, Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu menghilang pada awal April lalu. Tiga hari berselang, dia ditemukan tanpa nyawa dengan tulang pinggang patah dan luka-luka di tubuhnya.

Setelah insiden itu, kepolisian menahan 14 tersangka pelaku.

Mei lalu, sebanyak tujuh orang diajukan ke pengadilan dan dijatuhi vonis hukuman penjara selama 10 tahun dengan pelatihan kerja selama enam bulan.

Kini, dengan dijatuhinya hukuman terhadap enam orang, hampir seluruh tersangka awal telah divonis. Adapun seorang tersangka bernama Firman masih buron.

Meski sempat sepi dari publikasi, kasus ini menimbulkan reaksi dari masyarakat. Sebagian besar menuntut pelaku kasus tersebut dihukum mati.

Bahkan Presiden Joko Widodo melalui Twitter juga mengungkap duka atas meninggalnya Yuyun.

"Kita semua berduka atas kepergian YY yang tragis. Tangkap & hukum pelaku seberat-beratnya. Perempuan & anak2 harus dilindungi dari kekerasan", kata Jokowi.

Beberapa pekan setelah kasus ini bergulir, Presiden Jokowi menerbitkan Perppu nomor 1 tahun 2016 tentang perubahan kedua atas UU Nomor 2 tahun 2002 tentang perlindungan anak. Di dalam Perppu itu, memuat beragam hukuman, termasuk kebiri kimia. (BBC Indonesia)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.