Gatot dan Taat, 2 pelaku klenik yang terjerat kasus kriminal (foto),
Sosok-sosok dukun uang dan penipuan diyakini seperti fenomena gunung es, atau luas menyebar di masyarakat Indonesia dengan kultur yang dekat pada tradisi klenik.

Gatot Brajamusti maupun Dimas Kanjeng hanyalah pucuk gunung es yang terungkap di permukaan.

Sementara ribuan dukun dengan modus sejenis dan menjerat pengikut, masih giat beroperasi untuk melancarkan aktivitasnya dalam meraup keuntungan.

Risalah bertemu sebuah sumber yang menceritakan bagaimana orang tuanya terjerat menjadi pengikut 'tokoh spiritual' yang mengaku bisa menggandakan uang.

Sebut saja Fulan, ia berkisah bahwa aliran klenik (berkedok agama) dengan janji harta telah mengambil alih sosok ayahnya, secara lahir maupun batin.

Sang ayah kini jauh dari keluarganya dan menjadi pengikut praktisi klenik, terjerat janji uang yang akan mengganda setelah melalui ritual tertentu dan "membersihkan hati".

Namun, bukan harta melimpah yang didapat melalui cara di luar nalar, melainkan sang korban kehilangan orientasi hidup dan kehidupan normalnya, termakan bualan sang dukun.

Ayah fulan tidak sendirian, banyak orang lain yang menjadi pengikut dukun pengganda uang di dekat kota Bandung ini.

Fulan juga menuturkan bahwa sang ayah awalnya terjerat menjadi pengikut akibat terkena teknik hipnotis atau sejenis sihir yang mencuci otak korban sehingga kehilangan orientasi dari kehidupan asalnya.

Target lama-kelamaan akan makin dalam dipengaruhi oleh sang dukun.

Saat ini tidak ada upaya hukum dari keluarga besar korban, sebabnya mereka tak memiliki bukti untuk menjerat penipuan bermodus kenik, dimana jika belum terbukti/terjadi tindakan kriminal maka sulit memperkarakan dukun secara hukum.

Indonesia yang merupakan negeri berpenduduk mayoritas Islam, tidak memiliki payung hukum pada kasus dosa besar Islam, seperti klenik (perdukunan) dan syirik.

Pelaku hanya bisa dijerat setelah ada laporan kejahatan kriminal biasa, seperti penipuan, pencabulan, narkoba dan pembunuhan.

Sementara bagi pihak keluarga yang jadi korban, seperti Fulan, duka cita tidak hanya datang dari bencana alam. Tetapi juga karena praktik-praktik klenik seperti yang dilakukan oleh Dimas Kanjeng.

Selama bertahun-tahun sebuah keluarga bisa menderita gara-gara kasus seperti ini tak terungkap, sehingga korban bisa direhabilitasi dari dukun uang secara agama, hukum dan sosial.

Di Arab Saudi, dukun bisa dipancung
Lain di Indonesia, lain di Arab Saudi, di negeri lokasi tanah suci yang menerapkan syariat Islam itu memberikan hukuman mati bagi pelaku perbuatan sihir dan klenik, karena hal itu merupakan syirik (menyekutukan Allah), yaitu dosa paling besar di dalam agama Islam.

Pada tahun 2011 lalu, seorang wanita bernama Aminah dipancung setelah melakukan praktek perdukunan dengan mengaku bisa mengobati orang sakit menggunakan "ilmu sihir".

Seorang TKW asal Sumbawa, bernama Sumartini juga pernah divonis mati lantaran dituduh menghilangkan nyawa anak majikannya menggunakan sihir.

Bahkan, sempat diberitakan Sumartini akan menghadapi hukuman pancung pada 3 Juli 2011, namun batal karena tiba-tiba anak majikannya itu kembali lagi ke rumah, seperti dilansir Antaranews.

Setelah diklarifikasi kasusnya, Sumartini dinyatakan bebas dari jeratan hukum serta dikembalikan ke sanak keluarganya di kampung halaman. (rslh/Antaranews)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.