Kerry dan Lavrov (foto),
Menlu AS John Kerry dan Menlu Rusia Sergei Lavrov kembali berunding mengenai Suriah pada Sabtu (15/10). Atau tiga minggu telah berlalu sejak kegagalan gencatan senjata yang digaas keduanya.

Banyak pihak menilai pertemuan ini akan menjadi harapan terakhir untuk perdamaian Suriah.

Kerry menghindari negosiasi bilateral baru dengan Lavrov. Sehingga ia juga mengundang Menlu Turki, Saudi, Qatar, Iran, Yordania dan Mesir untuk bergabung dalam pembicaraan di Lausanne, Swiss.

Kerry berharap hal tersebut bisa memperluas diskusi dalam membahas dukungan negara luar terhadap rezim Suriah maupun oposisi.

"Kami sudah meminta negara-negara (terkait) untuk datang dan memikirkan tentang cara realistis yang harus dilakukan ke depannya", kata seorang pejabat Kementrian Luar Negri AS, dilansir dari Reuters.

Pejabat tersebut menerangkan, pembicaraan mungkin akan menjadi sebuah proses yang alot dan tidak segera menghasilkan solusi, tapi ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk melakukan proses baru.

Tekanan internasional terhadap kejelasan hasil dari perundingan itu meningkat, mengingat selama 3 minggu ini rezim Assad telah melakukan serangan mematikan ke kota Aleppo.

PBB mengatakan, terdapat 275.000 warga sipil dan 8.000 pejuang oposisi yang hidup di kota terkepung, mereka bertahan melawan rezim Suriah dan milisi Syi'ah, serta gempuran Rusia.

Makanan, bahan bakar dan obat-obatan di Aleppo timur terus menyusut, sementara tidak ada sisa lagi kebutuhan yang bisa didistribusikan mulai awal bulan depan.

Negara-negara Barat menuduh Rusia dan Assad melakukan kejahatan dengan membom rumah sakit, membunuh warga sipil, mencegah evakuasi medis, serta menargetkan konvoi bantuan yang menewakan sekitar puluhan orang.

Rusia dan Assad membantah , serta mengklaim hanya "menargetkan militan di Aleppo". Keduanya juga menuduh AS yang telah melanggar gencatan senjata saat membom tentara rezim Suriah di Deir Zour saat melawan ISIS,. Hal yyang kemudian disesalkan oleh AS.

Sebelumnya dalam rasa putus asa, utusan PBB untuk Suriah Staffan de Mistura menawarkan mengawal anggota kelompok Jabhah Fathu Syam (JFS) untuk keluar dari Aleppo.

Karena mereka selama ini dijadikan alasan empuk bagi rezim Damaskus terus membom Aleppo. Namun tawaran de Mistura ditolak JFS.

Sementara Wakil Menlu Lavrov, Gennady Gatilov, menyatakan Rusia ingin membahas tawaran de Mistura, juga unsur-unsur penyebab kegagalan kesepakatan gencatan senjata bulan lalu, dan penarikan pasukan dua belah pihak di jalan Castello, rute utama untuk bantuan kemanusiaan. (Reuters/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.