Demonstrasi warga Aleppo timur (foto),
Sebulan serangan udara Rusia ditambah gempuran darat pasukan Suriah di Aleppo telah menewaskan sekitar 500 orang, menurut laporan Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon pada Kamis (20/10).

Serangan juga memutus jalur suplai pangan, membuat makanan di Aleppo diperkirakan akan habis di akhir bulan ini, sehingga mengancam nyawa ratusan ribu orang.

Ban, seperti dikutip AFP, mengatakan di hadapan Majelis Umum PBB, gempuran rezim Basyar al-Assad di Aleppo yang didukung Rusia sejak 22 September, merupakan salah satu serangan paling sengit dalam lima tahun konflik di Suriah.

"Hasilnya sangat buruk", kata Ban.

Sekitar 500 orang tewas dan 2.000 lainnya terluka, tidak sedikit termasuk anak-anak. Bantuan PBB tidak bisa memasuki kota Aleppo sejak 7 Juli.

Menurut Ban, "kelaparan telah digunakan sebagai senjata perang".

Rusia pada Kamis waktu setempat mulai melakukan gencatan senjata kemanusiaan selama 24 jam di kota tersebut.

PBB mengatakan waktu sehari tidak cukup untuk menyalurkan bantuan di Aleppo. Prioritas saat ini adalah mengevakuasi mereka yang terluka.

Walau pertempuran mulai mereda, namun warga Aleppo masih juga belum terlihat meninggalkan kota. Moskow menuding oposisi mencegah warga pergi.

Namun oposisi dan banyak warga menolak hal itu, dan menganggap tawaran "evakuasi" Rusia hanyalah siasat licik mengusir warga dari kotanya. Sehingga menurunkan populasi dan membawa kemenangan di pihak rezim Assad.

Aksi demo juga terjadi di kota menentang Rusia yang dianggap ingin melakukan pembersihan etnis demi kemenangan Assad.

Unjuk rasa di kota Aleppo timur menentang "pengusiran"

Upaya internasional selalu buntu
Pertemuan PBB digelar oleh Kanada dan diikuti 72 negara untuk mengakhiri kebuntuan perundingan damai Suriah setelah Dewan Keamanan gagal menelurkan resolusi akibat veto Rusia.

Rusia bersikeras kehadiran militer mereka di Suriah adalah untuk membantu Assad memerangi terorisme ISIS dan pemberontak yang terkait al-Qaeda. Namun dalih ini dimentahkan oleh Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB Samantha Power.

"Bukan teroris yang menjatuhkan bom-bom (penghancur) bunker di rumah sakit dan rumah sipil di timur Aleppo, atau yang membunuhi warga sipil di sana, tapi rezim Assad dan Rusia", kata Power.

Menurut Menteri Luar Negeri Kanada Stephane Dion yang menggagas pertemuan darurat PBB itu, perlu ada tindakan segera yang harus disepakati oleh 193 anggota PBB.

"Kita harus bertindak, dan bertindak sekarang", tegas Dion.

Belum diketahui apakah ada hasil konkret pertemuan, yang disinyalir diadakan untuk mendesak Rusia dan Assad agar berhenti menyerang Aleppo.

Lebih dari 300 ribu orang terbunuh sejak konflik Suriah dimulai pada Maret 2011, kekerasan di Aleppo disebut yang terparah.

Total ada sekitar 250 ribu warga sipil yang masih terjebak di timur kota Aleppo, wilayah yang dikuasai oposisi Sunni.
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.