BBC menemukan sejumlah anak pengungsi Suriah bekerja di pabrik-pabrik di Turki.
Tim Panorama BBC menemukan bahwa sejumlah anak-anak pengungsi Suriah bekerja di sejumlah pabrik di Turki.

Mereka membuat pakaian untuk merk Marks and Spencer serta penjual pakaian online, Asos. Para pengungsi pun bekerja secara ilegal pada Zara dan produk jeans Mango.

Merk-merk tersebut membantahnya, dan mengklaim telah memonitor pabriknya secara intensif dan menegaskan tidak mentoleransi eksploitasi terhadap pengungsi atau anak-anak.

Marks and Spencer menegaskan, inspeksi mereka tidak menemukan satupun pengungsi Suriah yang bekerja di pabrik miliknya di Turki.

Juru bicara Marks and Spencer menyatakan bahwa temuan tim Panorama 'amat serius' dan 'tidak dapat ditoleransi'.

“Perekrutan tenaga kerja yang etis, penting bagi M&S. Semua pabrik pakaian harus memenuhi prinsip perekrutan tenaga kerja global kami”, ungkap M&S

Namun, sejumlah pihak menuding Marks and Spencer tidak cukup tegas menghentikan praktik yang ditemukan Panorama BBC.

Danielle McMullan dari Business & Human Rights Resource Centre menyatakan perusahaan-perusahaan pakaian tersebut perlu memahami bahwa mereka harus bertanggung jawab.

“Tidak cukup jika mereka hanya berujar kami tidak tahu soal ini, ini bukan kesalahan kami … Mereka bertanggung jawab memonitor dan memahami dari mana pakaian mereka berasal, siapa yang membuat dan bagaimana kondisi di balik pembuatan itu”, kritiknya.

Di sebuah jalan belakang pabrik pakaian di kota Istanbul, tim Panorama BBC bertemu dengan sejumlah anak Suriah yang sedang bekerja. Di sana, tim juga mendapatkan sejumlah sampel pakaian merk Asos.

Asos mengakui bahwa pakaian tersebut di pabriknya, tetapi mengklaim pabrik itu tidak resmi. Asos menegaskan telah menginspeksi pabrik itu, yang menemukan 11 orang dewasa dan tiga anak Suriah berusia di bawah 16 tahun sedang bekerja.

Asos mengatakan, anak-anak Suriah itu akan dibantu secara finansial sehingga bisa kembali bersekolah. Sementara, pengungsi dewasa akan dibayar gajinya sampai mendapatkan pekerjaan legal.

“Kami sudah menjalankan program bantuan itu meskipun faktanya pabrik itu tidak ada sangkut-pautnya dengan Asos”, kata Juru bicara Asos.

Investigasi BBC juga menunjukkan jika pengungsi Suriah bekerja 12 jam perhari di pabrik yang memproduksi jeans untuk merk Mango dan Zara.

Mereka bertugas menyemprotkan bahan kimia berbahaya untuk memutihkan jeans. Mayoritas dari mereka bahkan bekerja tanpa menggunakan penutup wajah.

Mango menyatakan pabrik tersebut hanya bekerja sebagai pabrik pembantu, yang sama sekali tidak diketahui manajemennya. Inspeksi terbaru, Mango mengaku tidak menemukan satupun pekerja yang merupakan pengungsi Suriah.

Turki kini menjadi tempat yang ‘menantang’ untuk berbisnis. Banjir pekerja produktif di negara ini terus terjadi, apalagi dengan keberadaan sekitar tiga juta pengungsi Suriah.

Mayoritas pengungsi tidak punya izin kerja sehingga banyak yang memilih bekerja secara ilegal di industri pakaian. Yang berisiko dieksploitasi.

Reporter Panorama BBC, Darragh MacIntyre, berbicara dengan puluhan pekerja Suriah yang merasa dieksploitasi.

Di salah satu pabrik, pekerja pengungsi mendapat bayaran Rp 16.000 per jam, jauh di bawah upah minimum di Turki. Mereka dipekerjakan lewat penghubung yang membayar mereka secara tunai di jalan.

Salah seorang pengungsi bercerita bahwa mereka mendapat perlakuan buruk di pabrik itu.

“Jika kami melakukan kesalahan, mereka akan mengusir kami seperti baju bekas”, keluhnya. (BBC Indonesia)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.