Seorang eks-Gafatar bersama anaknya di Kalbar (foto Antaranews),
Koalisi Advokasi Hak Anak Indonesia (KAHAI) Ilma Sovri Yanti mengungkapkan bahwa Sebanyak 3.583 anak eks-Gafatar terancam tak mendapatkan hak mereka sebagai anak, akibat dicap buruk oleh warga di sekitar tempat tinggal mereka, dilansir dari CNN Indonesia.

Sebagian dari anak-anak tersebut bahkan ditolak saat hendak bersekolah di dekat tempat tinggal mereka. Ribuan anak itu merupakan bagian dari 8.187 warga eks-Gafatar yang diusir dari Kalimantan Barat pada Februari lalu.

Ilma kemudian memperkenalkan salah satu ibu eks-Gafatar, Parmi. Parmi menuturkan kisah saat keluarganya tiba di daerah asal mereka di Tangerang. Menurut Parmi, banyak penduduk sekitar yang mencibir ketika bertemu anaknya.

"Mereka tunjuk anak saya, 'Kamu enggak sekolah? Kamu Gafatar ya? Dasar kamu sesat!'..", ujar Parmi menirukan tuduhan warga sekitar.

Untuk menghindari penolakan, Parmi memilih mengajar anaknya di rumah mengenai berbagai macam pelajaran sekolah.

Ia mengandalkan Internet untuk mempelajari metode pembelajaran dan pendidikan.

Ida Zubaidah, warga eks-Gafatar asal Bogor, menuturkan kisah yang lebih tragis mengenai sahabatnya sesama eks-Gafatar yang kini tinggal di Majalengka, Jawa Barat.

Sebelum tiba di tempat tinggal asalnya masing-masing, Ida dan sahabatnya yang tak mau diungkap identitasnya ini sempat ditampung di dinas sosial di beberapa daerah.

Saat tiba di Cimahi, Jawa Barat, anak dari sahabatnya ini diperiksa dan diambil datanya untuk pengarsipan dinas sosial. Mereka difoto dengan posisi tegak sambil memegang karton polos.

Keluarga sahabat Ida itu terkejut ketika tiba-tiba, warga sekitar mendatangi rumah sementara mereka dan berteriak, "Anak kamu itu teroris! Kamu tidak boleh tinggal di sini!".

Para warga itu membawa secarik kertas yang menunjukkan foto anaknya memakai baju oranye dan memegang papan bertuliskan "Teroris".

"Mereka memodifikasi fotonya. Bajunya waktu difoto pertama kali itu ya baju biasa, tapi tiba-tiba jadi oranye. Papannya juga tadinya kosong, tapi jadi ada tulisan teroris", tutur Ida.

Menurut seorang eks-Gafatar yang kini tergabung dalam KAHAI, Faldiaz Bachtiar, masih banyak bentuk ketidakadilan lain yang menimpa anak-anak tersebut sehingga hak-hak mereka tak terpenuhi sesuai dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

"Masih banyak yang lainnya juga. Dalam perjalanan dari Kalimantan dengan kendaraan dan cuaca yang tidak mendukung, banyak anak sakit dan tidak mendapat penanggulangan baik. Ada pula yang mendapat trauma psikologi parah", katanya.

Menanggapi segala keluhan ini, Nahar mewakili Kementerian Sosial meminta KAHAI untuk menyusun data anak-anak eks-Gafatar dengan rapi sehingga pemerintah dapat memetakan solusinya dengan baik.

"Data ini kan masih tersebar. Saya ingin teman-teman susun setidaknya mengandung empat unsur, yaitu identifikasi masalah, identitasnya, lokasinya di mana, dan penanganan yang dibutuhkan apa agar kami dapat segera berkoordinasi dengan instansi-instansi terkait", kata Nahar. (CNN Indonesia)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.