Kehancuran Aleppo (foto),
Kamis lalu (6/10), Basyar al-Assad mengatakan bahwa oposisi yang ada di kota Aleppo, diperkenankan pergi bersama keluarga mereka, jika meletakkan senjata, menghentikan perlawanan di kota itu serta "menyerah pada rezim".

Namun, pejuang Sunni tidak berencana untuk mengevakuasi diri dari Aleppo, serta menyebut tawaran amnesti Assad sebagai penipuan.

"Tidak mungkin bagi kelompok oposisi untuk meninggalkan Aleppo karena ini akan jadi tipuan oleh rezim (untuk merebut Aleppo)", kata Zakaria Malahifji, perwakilan kelompok pejuang Fastaqim di Turki.

"Aleppo tidak seperti wilayah lain, mereka tidak mungkin menyerah", katanya.

Pihak rezim juga mengirim pesan teks ke ponsel beberapa orang yang ada di bagian kota terkepung itu, memberitahu mereka agar menentang kelompok perlawanan bersenjata yang ada di sana.

Sebelumnya kepada televisi Denmark, Assad mengatakan jika ia akan "melanjutkan perang dengan penentangnya sampai mereka meninggalkan Aleppo". Tidak ada pilihan lain kata Assad.

Sementara perang kota terus berkecamuk hebat hingga hari Jum'at, dimana pasukan Assad dan milisi Syi'ah meraih kemajuan penting di beberapa distrik. Meski berhasil dipukul balik di beberapa front lain

Kelanjutan peperangan itu membuat khawatir PBB, terkait masa depan Aleppo dan Suriah secara umum.

"Kami berada dalam kondisi darurat terkait Suriah, Aleppo, dan masa depan perang ini", kata utusan PBB untuk Suriah, Staffan de Mistura, di Jenewa.

De Mistura menggambarkan penundaan diplomasi gencatan senjata Suriah, antara Rusia dan Amerika Serikat, sebagai "kemunduran serius".

Pasukan Assad dan milisi Syi'ah yang dibantu serangan udara Rusia, meluncurkan serangan besar ke Aleppo yang terkepung sejak 2 pekan lalu, pasca dicabutnya gencatan senjata oleh rezim Damaskus.

"Hingga saat ini, (masalah) di wilayah pengepungan telah berlangsung selama minggu. Makanan dan pasokan bahan bakar berkurang... Roti habis, tidak ada air yang mengalir. Menurut Oxfam, 1,5 juta orang di kedua sisi kota tidak memiliki air bersih", ujar wartawan Al Jazeera, Zeina Khodr, melaporkan dari Gaziantep Turki, dekat perbatasan Suriah. (Al-Jazeera)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.