gbr: Ilustrasi (Reuters/Ammar Awad)

Kecaman internasional kembali ramai ditujukan terhadap aksi bejat oleh 13 warga Israel yang dinilai bisa memprovokasi kekerasan.

Mereka didakwa atas tindakan keji dan memicu kekerasan karena merayakan pembunuhan bayi Palestina yang dilakukan oleh kelompok Yahudi radikal.

Peristiwa ini menuai kecaman internasional, di tengah maraknya kekerasan terhadap warga Palestina di daerah pendudukan Israel.

Menurut AFP, 13 terdakwa merupakan warga yang terekam kamera sedang merayakan kematian Ali Dawabsheh, bayi berusia 18 bulan yang menjadi korban serangan bom Molotov di rumahnya pada Juli tahun lalu.

Perayaan digelar di sebuah pesta pernikahan pada Desember 2015, salah satu terdakwa adalah pengantin pria dan dikenal di kalangan Yahudi sayap kanan ekstrim.

Video memperlihatkan para terdakwa membawa senapan, pisau dan bom Molotov, menyanyikan lagu anti-Palestina sambil berdansa.

Foto bayi Dawabsheh ditikami pisau dalam pesta pernikahan itu. Kini video amatir itu sudah tersebar luas di internet.

Video tersebut juga telah disebar oleh berbagai stasiun televisi. Menurut media setempat, orang-orang di pesta itu kenal dengan para pembunuh Dawabsheh.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa video itu menunjukkan ‘wajah sejati’ dari kelompok yang berbahaya bagi masyarakat Israel.

Bayi 18 bulan tewas setelah rumahnya di desa Duma, Tepi Barat, dilempari bom Molotov. Dalam peristiwa itu Dawabsheh meregang nyawa bersama kedua orang tuanya.

Meninggalkan kakaknya, Ali, berusia 4 tahun yang berhasil selamat dalam kejadian itu.

Kecaman internasional kemudian ramai ditujukan kepada para ‘teroris Yahudi’. Pemerintah Palestina dan Israel ikut dalam barisan pengutuk insiden itu.

Para tersangka telah ditahan atas tuduhan terorisme dan beberapa diantaranya bahkan masih di bawah umur.

Israel memang kerap kali melakukan kekerasan yang berlebihan terhadap warga Palestina.

Sedikitnya 36 warga Israel, dua Amerika dan beberapa warga negara lain tewas dibunuh oleh penyerang dari Palestina. Namun kemudian, lebih dari 230 warga Palestina ditembak mati aparat keamanan Israel.

Israel berdalih, mereka menembak mati watga Palestina yang berusaha menyerang warga dan aparat. Namun dalam beberapa kasus, aparat Israel dituding main hakim sendiri dan kekhawatiran berlebih.

Salah satunya dalam kasus kematian dua kakak-beradik Palestina di pos pemeriksaan antara Yerusalem dan Tepi Barat pada 27 April lalu.

Kementerian Kehakiman menyatakan tentara Israel mempertahankan diri dalam peristiwa itu, setelah seorang dari warga Palestina itu, ibu dua anak, membawa pisau dan menyerang mereka.

Namun seorang saksi mata kepada AFP mengatakan, Maram Abu Ismail, 23, dan adik laki-lakinya, Ibrahim Saleh Taha, 16, hanya panik karena salah jalan di pos pemeriksaan yang ketat.

Kepanikan mereka diartikan lain, yang berujung pada kematian keduanya di tangan Israel. (CNN Indonesia)
Share To:

Taufiq Akbar Wardiana

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.