Menlu Saudi dan Turki (foto),
Menteri Luar Negeri Turki, Mevlut Cavusoglu, menepis kemungkinan proses transisi politik di Suriah akan melibatkan Basyar al-Assad.

Berbicara dalam konferensi pers bersama dengan Menlu Arab Saudi, Adel al-Jubeir, Cavusoglu mengatakan kekacauan di Suriah akan berlanjut jika Assad tetap berkuasa selama proses transisi.

"Karena ia bertanggung jawab atas pembunuhan 600.000 warga Suriah, bahkan kemarin menggunakan gas klorin", kata Cavusoglu terkait laporan serangan gas kimia terbaru di Aleppo.

Pernyataan ini membantah kabar sebelumnya, dimana Turki membuka peluang proses transisi akan melibatkan Assad, agar lebih diterima oleh Rusia.

Assad disebutnya telah kehilangan kesempatan saat awal krisis, karena menanggapi tuntutan rakyat Suriah dengan tindakan represif.

Covusoglu juga menambahkan bahwa operasi militer yang dilakukan bersama pejuang FSA harus berlanjut menuju selatan negara itu, termasuk daerah Manbij yang "harus dibersihkan dari teroris".

Perlu dicatat bahwa operasi itu merebut kembali berbagai wilayah yang dikontrol teroris ISIS, serta mengincar kota Manbij yang dikuasai SDF dukungan AS.

Turki memang memandang SDF sebagai ancaman karena dianggap "ditunggangi" militan YPG Kurdi.

Pemerintah Ankara ingin unsur YPG segera ditarik dari sisi timur sungai Efrat. Sementara ISIS dibuat makin terisolir.

"Dengan demikian wilayah ini akan menjadi daerah yang aman. Kami akan bekerja dengan Arab Saudi untuk mengembalikan lagi rakyat Suriah seperti keinginan mereka (ke rumahnya). Pengembalian bahkan telah dimulai, kemarin lebih dari 200 orang pulang ke Jarablus", katanya, merujuk kembalinya pengungsi Suriah di Turki ke kotanya. (Hurriyet Daily)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.