Kanjeng Dimas Taat Pribadi dalam 2 kondisi berbeda (foto),
Ternyata ada rapalan mantra tersendiri dari "ilmu" yang diyakini Dimas Kanjeng Taat Pribadi, untuk menggandakan uang itu, yaitu bacaan yang disebut "shalawat fulus" (fulus = uang, red).

"Shalawat fulus" itu menjadi bacaan (lebih tepat disebut mantra untuk tujuan tertentu) yang dilafalkan para pengikutnya pada setiap kegiatan di padepokan.

Hal ini diungkapkan oleh Ketua MUI Jatim KH Abdusshomad Buchori, Rabu (28/9), dilansir oleh Detikcom.

Dan untuk menyikapinya, MUI Jatim bersama MUI Kabupaten Probolinggo, akan mengkaji konten bacaan-bacaan yang dianggap menyimpang dari ajaran Islam.

Pasalnya, bacaan "shalawat fulus" ini merupakan sebuah "zikir" yang diyakini bisa menggandakan uang secara ghaib.

"Yang kami temukan di padepokan Dimas Kanjeng, ada selebaran yang isinya ada 20 item yang diajarkan. Salah satunya 'shalawat fulus' itu yang berada pada urutan ke 16. Nah, itu yang kami kaji saat ini", ungkap Ketua MUI Jawa Timur KH Abdusshomad Buchori.

Kajian yang MUI Jatim dilakukan dari beberapa aspek, salah satunya termasuk aspek amaliyahnya yang akan diteliti.

Untuk memperkuat kajian tersebut, MUI Jatim akan bertanya kepada orang-orang yang pernah menjadi pengikut Taat Pribadi dan sudah keluar.

Dalam sambuangan telepon kepada Detikcom, KH Abdusshomad, membacakan bunyi dari 'shalawat fulus' itu.

"Allahuma sholli ala sayyidina muhammadinil mabngu fi sholatan tadribu biha amwalu wal fulusu wa mal busu wal mad u'mu biadadin wanafasin bainahum ya fa ihun ya rajiun"

"Jika diartikan atas bacaan 'salawat fulus' itu begini: ..ya Allah beri rahmat kepada Nabi Muhammad dengan shalawat dan rahmat yang bisa melipat gandakan harta, uang, pakaian, makanan dengan nafas yang dihembuskan diantara mereka kembali... Tapi ini kami masih kaji, kenapa harus ada bacaan seperti ini", tutur KH Abdusshomad.

Kemudian, MUI Jatim juga tidak setuju dengan kata "santri" yang disebutkan di padepokan milik Taat, karena tempat itu bukan pondok pesantren serta tidak ada sekolah dan ngaji, sehingga lebih pas jika disebut pengikut. (Detikcom)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.