"Ahok harus dikalahkan" (foto),
Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Gerindra pada Kamis malam (8/9) resmi mengumumkan penyandingan Sandiaga Uno dengan Ketua DPP PKS bidang Kepemudaan, Mardani Ali Sera, untuk diusung dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017.

Presiden PKS Sohibul Iman mengatakan bahwa pasangan tersebut telah ditetapkan oleh Dewan Pimpinan Tingkat Pusat (DPP) PKS kepada Pengurus Wilayah PKS DKI Jakarta dan seluruh kadernya di kantor DPP PKS.

“Insya Allah, PKS bersama Gerindra sepakat mengusung duet Sandiaga Uno-Mardani Ali Sera sebagai cagub dan cawagub DKI di pilkada 2017", katanya lewat keterangan tertulis hari Jum'at, seperti dimuat Tempo.

Sohibul menjelaskan alasan mengusung pasangan calon itu karena didasari hasil survei, pertimbangan jumlah kursi PKS di DPRD DKI Jakarta, serta komunikasi dengan partai lain.

Menurutnya lagi, duet ini perlu diperkenalkan ke partai lain guna memperkuat koalisi.

"Dalam beberapa hari ke depan, kami akan mendeklarasi secara terbuka untuk memperkenalkan kepada publik", ujar Sohibul.

Komisi Pemilihan Umum mensyaratkan partai atau gabungan partai politik yang ingin mengusung calon di pilkada DKI Jakarta minimal meraih 22 kursi DPRD.

Saat ini, Gerindra memiliki 15 kursi, sedangkan PKS 11 kursi di DPRD, sehingga total kursi koalisi partai ini sebanyak 26 kursi.

Selain PKS dan Gerindra, partai lain yang telah menyatakan sikapnya dalam pilkada DKI ini antara lain Hanura, Golkar, dan NasDem. Tiga partai ini kompak mendukung Gubernur DKI Jakarta, Basuki "Ahok" untuk maju kembali.

Sebelumnya PKS bersama PAN, PKB, Demokrat, PPP, Gerindra dan PDIP bergabung membentuk 'Koalisi Kekeluargaan' dalam melawan Ahok.

Soal Cagub, Gerindra, PKB dan PKS disebut telah sepakat mengajukan Sandiaga Uno.

Namun mereka belum satu suara soal Cawagub. PKS mengajukan nama Mardani Ali Sera sebagai pendamping Sandiaga. Tawaran itu belum sepenuhnya didukung oleh anggota koalisi lainnya.

Masing-masing partai masih memiliki kandidatnya sendiri. PKB bahkan membuka peluang tentang poros alternatif.

PKB mengajak PAN, Demokrat, dan PPP untuk mewujudkan poros alternatif. Namun ternyata ajakan ini belum sepenuhnya didengar oleh partai lain, sehingga isunya belum memanas dibahas di kalangan parpol.

"Demokrat belum menentukan", kata Wakil Ketua DPD Partai Demokrat Bidang Organisasi Keanggotaan dan Kaderisasi, Krisna Salmun.

Partai Demokrat tingkat pusat memang belum menentukan pilihan. Namun hingga kini, mereka masih menjalin komunikasi dengan kandidat potensial Jakarta, yakni Sandiaga Uno dan Yusril Ihza Mahendra.

"Kans Yusril Masih besar. Setelah petahana (Ahok), hasil survei menempatkan dia (Yusril) di nomor dua", kata Krisna.

Wacana dimunculkannya pasangan Sandiaga-Mardani Ali Sera tak disampaikan pada Partai Demokrat DKI. Namun Demokrat belum memutuskan apapun.

Sementara PAN, menanggapi wacana poros alternatif, menyatakan belum menerima informasi langsung dari PKB.

"Kami belum menentukan. Namun kami sudah pasti, alternatifnya adalah Sandiaga Uno, Yusril, atau Rizal Ramli. Ini masih digodok di tingkat Dewan Pimpinan Pusat", kata Ketua Tim Pilkada PAN DKI, Johan Musyawa.

Sama dengan PAN, PPP juga belum mendapat ajakan langsung dalam membentuk poros alternatif yang mengusung Yusril. Tapi nama ini memang menjadi salah satu kandidat yang ditimbang PPP.

"Saya belum mengonfirmasi soal itu (poros alternatif). Sesuai pembicaraan sejak pertama kali, dua orang yang menjadi kandidat alternatif kami adalah Sandiaga atau Yusril", kata Ketua DPW PPP DKI Abdul Aziz.

Soal wacana kandidat pasangan Sandiaga-Mardani, PPP memandang hal itu belumlah final. Sebab, Sandiaga sendiri belum mengklarifikasi perihal kepastian duetnya dengan politisi PKS tersebut.

"Karena saya belum dapat konfirmasi dari pak Sandi, jadi menurut saya pak Sandi belum mendeklarasikan diri", kata Abdul Aziz.

Kepastian siapa penantang Ahok dari partai-partai koalisi, kemungkinan akan muncul pertengahan bulan ini.

"Kalau saya bicara dengan teman-teman, tanggal 15 atau 16 September nanti sudah final. Saya kira keputusan ini akan diambil koalisi kekeluargaan minus PDIP", ujarnya.

PDIP, walau menjadi bagian dari koalisi kekeluargaan, berpeluang untuk merapat mendukung Ahok. Namun belum ada sikap resmi dari partai berlambang kepala Banteng hitam ini.

Basuki Ahok berulang kali meminta izin kepada Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri untuk menggandeng Djarot Saiful Hidayat. (Tempo/Detik)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.