Bayi jadi korban serangan udara (foto),
Sudah satu tahun sejak Vladimir Putin memutuskan membantu rezim Basyar al-Assad menggempur semua kelompok perlawanan yang dianggap sebagai "teroris" oleh Damaskus.

Saat itu pasukan Assad memang sedang terpojok oleh pejuang Sunni, pasca jatuhnya kota-kota di provinsi Idlib.

Bahkan dalam propaganda paling awal, Moskow beralasan serangan militernya dilakukan untuk menggempur ISIS. Namun sebagian besar menarget wilayah oposisi moderat yang diakui internasional.

Menurut keterangan penyelamat 'White Helmet', salah satu serangan paling awal Rusia menghantam sebuah kampung di kota Talbiseh, Homs.

"Mendengar Rusia dari radio? Kami langsung tahu ini adalah jenis serangan yang tidak biasa. Dimana 100% korban adalah warga sipil. Sebuah kompleks di daerah Talbiseh (semuanya) hancur, termasuk 60 rumah warga sipil", kata Khalid, relawan White Helmet saat menjelaskan peristiwa 30 September 2015, beberapa bulan lalu.

Kecaman pun berdatangan terhadap Rusia karena klaimnya untuk memerangi ISIS dan sesuai dengan penerapan di lapangan.

Moskow kemudian menggunakan Jabhah Nushrah (kini Jabhah Fathu Syam, saat itu masih afiliasi al-Qaeda) sebagai alasan untuk mengebom ke wilayah oposisi. Dimana Nushrah dan kelompok Sunni lainnya memang bersekutu untuk memerangi Assad maupun ISIS.

Total korban terbesar Rusia adalah warga sipil, menurut kelompok pemantau SOHR. Jauh lebih banyak daripada anggota ISIS.

Rusia memutuskan membantu Assad secara pada 30 September 2015 dimana sebelumnya hanya membantu lewat Dewan Keamanan PBB yaitu dengan memveto setiap keputusan tentang penghentian perang yang merugikan Damaskus.

Rusia juga membela Assad ketika akan dihukum internasional setelah terjadi serangan gas Sarin di Ghouta, Agustus 2013.

Sanksi militer tidak jadi diberikan, setelah terjadi kesepakatan pelucutan senjata kimia milik rezim Assad oleh Rusia, sementara penyelidikan kejahatan perang itu menguap.

Aleppo kota terparah pemboman Rusia
Namun intervensi Rusia tidak mengubah keadaan terlalu signifikan, justru semakin parah, terutama di wilayah Aleppo yang menjadi fokus penyerangan rezim di Damaskus dan jet tempur Moskow.

Beberapa bulan terakhir, gempuran kian gencar dilancarkan oleh rezim Suriah yang dibantu milisi Syi'ah dan serangan udara Rusia ke Aleppo.

Publik dunia disuguhi gambar menakutkan dari Aleppo selama berbulan bulan, termasuk pemandangan mengerikan tergambarkan saat sebuah rekaman bocah bersimbah darah di ambulans, Omran Daqneesh, menyebar Agustur lalu.

Serangan terbaru dilancarkan kembali di Aleppo setelah gencatan senjata berakhir pada Senin (18/9) dan pengumuman serangan besar di hari Kamis (22/9).

Keadaan ini kian parah setelah Assad mengerahkan pasukan darat untuk menggempur kelompok penentangnya, Aleppo dibombardir dari darat dan udara.

Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Ban Ki-moon, pun menyebut kondisi Aleppo saat ini lebih parah dari rumah jagal.

Setidaknya tujuh orang tewas dan salah satu rumah sakit tak dapat beroperasi akibat pengeboman yang ternyata juga menghantam satu pusat distribusi roti.

Assad-Rusia lakukan kejahatan perang
Beberapa jam setelah pengeboman ini, Ban berbicara di hadapan Dewan Keamanan PBB. Secara implisit, Ban menyebut Suriah dan Rusia melakukan kejahatan perang.

"Mari kita tegaskan, mereka yang menggunakan senjata destruktif tahu betul apa yang mereka lakukan. Mereka tahu mereka melakukan kejahatan perang", katanya seperti dikutip The Independent.

Ban kemudian mengajak anggota Dewan Keamanan PBB untuk membayangkan keadaan di Aleppo yang terus memanas setelah gencatan senjata yang digagas AS dan Rusia berakhir.

"Orang yang bagian tubuhnya pecah, anak-anak kesakitan dan tak ada obatnya, terinfeksi, menderita, sekarat. Mereka tak punya tempat berlindung dan tak melihat adanya akhir. Bayangkan sebuah rumah jagal. Ini lebih parah. Bahkan rumah jagal lebih manusiawi", katanya.

Merujuk data badan anak PBB, UNICEF, setidaknya 96 anak tewas dan 223 lainnya terluka sejak gencatan senjata berakhir Jum'at pekan lalu.

Mimpi buruk anak-anak

Menurut wakil direktur eksekutif UNICEF, Justin Forsyth, anak-anak di kota itu "terperangkap di dalam mimpi buruk" dan penderitaan itu merupakan "yang terburuk yang pernah dilihat."

Ban kembali mendesak DK PBB agar mengambil "langkah tegas" guna melindungi fasilitas kesehatan dan staf medis.

Sementara itu, pejabat AS kini sedang menimbang penerapan "rencana B" setelah gagalnya "rencana A" mereka akibat dicabutnya gencatan senjata oleh Assad-Rusia.

Seperti diberitakan The Guardian, salah satu pilihannya adalah dengan menjatuhkan sanksi terhadap individu atau institusi, bisa termasuk pilot dan komandan unit, yang terlibat dalam penyerangan terhadap konvoi kemanusiaan PBB, serta pengeboman di Aleppo.

Menurut AS, hubungan mereka dengan Rusia kini sedang ada di titik balik. Menteri Luar Negeri AS, John Kerry, bahkan memperingatkan Menlu Rusia, Sergei Lavrov, bahwa Washington akan menghentikan pembicaraan soal konflik kecuali Moskow berhenti menyerang Aleppo.

Namun di lain sisi, Wakil Duta Besar Rusia untuk PBB, Evgeny Zagaynov, mengatakan bahwa Moskow disalahkan atas "sebagian besar serangan terhadap fasilitas sipil di Suriah" tanpa investigasi dan verifikasi independen.

Meski demikian, pemerintah AS bersikeras bahwa diplomasi adalah satu-satunya jalan untuk mengakhiri perang di Suriah.

"Penyebab apa yang terjadi saat ini adalah Assad dan Rusia sama-sama ingin kemenangan militer", kata Menteri Luar Negeri AS John kerry.

"Hari ini tidak ada gencatan senjata dan kita tidak membicarakannya lagi. Dan apa yang terjadi? Tempat itu (Aleppo) benar-benar hancur. Itu bukanlah khayalan", lanjut Kerry.

Perundingan dan langkah politik nyaris terhenti tanpa hasil apa-apa, sedangkan penderitaan warga Aleppo terus berlanjut.

Al-Jazeera memberitakan, tim medis sangat terbatas di kota itu. Di timur Aleppo yang terkepung, hanya tersisa 30 dokter untuk menangani 250-300 ribu warga di sana.

Lalu hanya ada satu orang dokter kandungan dan dua orang dokter anak untuk menangani wanita hamil, serta 85 ribu anak di Aleppo. (CNN Indonesia/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.