Anak Aleppo terluka akibat serangan udara (foto),
Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB menuduh Rusia melakukan 'barbarisme' terkait pengeboman ke kota Aleppo timur yang dikuasai oposisi Suriah.

Lewat sidang Dewan Keamanan PBB di New York, Minggu (25/9), Samantha Power mengatakan Rusia melakukann kebohongan nyata tentang perilakunya di Suriah.

"Apa yang Rusia sponsori (Assad) dan lakukan sendiri bukanlah melawan terorisme, tapi tindakan barbar", kecam Samantha, seperti dikutip Reuters.

"Bukannya mencari solusi damai, Russia dan Assad malah mengobarkan perang. Bukannya memberi bantuan untuk menyelamatkan warga sipil, Rusia dan Assad malah mengebom konvoi kemanusiaan, rumah sakit dan tim penyelamat pertama yang mati-matian menolong korban", lanjutnya.

Power juga menyebut Rusia dan rezim Suriah 'mengubur dengan sampah dari apa yang masih tersisa di kota ikon Timur Tengah tersebut'.

Sementara pihak Rusia mengklaim berupaya untuk "membersihkan teroris" di Suriah dengan meminimalisir korban warga sipil.

Data di lapangan menunjukkan, sekitar 300 korban sipil jatuh dalam 6 hari akibat serangan udara brutal ke pemukiman padat penduduk serta fasilitaspndukung sipil, sedangkan tak ada wilayah berarti yang direbut oleh pasukan Assad.

Kota Aleppo timur juga tidak dikontrol oleh kelompok "teroris", melainkan di bawah gabungan oposisi Sunni Fathu Halab yang menentang Assad selama beberapa tahun perang.

Sebaliknya, pihak Damaskus menuduh siapa saja yang menentangnya sebagai "teroris", termasuk alasan serangan Moskow juga demikian.

Sebenarnya ada sekitar 3 kelompok di Suriah yang dicap teroris (disepakati AS-Rusia), yaitu militan ISIS (yang dimusuhi semua pihak), Jabhah Fathu Syam (JFS, bekas Jabhah Nushrah) dan jihadis independen Jundu al-Aqsa.

Oposisi menuding Rusia menggunakan keberadaan JFS sebagai alasan untuk menyerang semua faksi.

Rusia tak mau solusi damai?
Duta Besar Rusia di PBB, Vitaly Churkin, mengatakan jika perdamaian bagi Suriah saat ini 'merupakan sesuatu yang nyaris tidak mungkin'.

Ia menuduh kelompok-kelompok perlawanan bersenjata melakukan sabotase atas gencatan senjata yang ditengahi Rusia dan Amerika Serikat, dimulai sejak 12 September.

"Di Suriah, ratusan faksi dipersenjatai dan mengebom wilayah negara (Assad) tanpa pandang bulu. Perdamaian rasanya sangat sulit untuk saat ini", tuduhnya di pertemuan DK PBB.

Pada masa gencatan senjata, oposisi menyatakan sebaliknya, bahwa serangan udara tak pernah berhenti dan bantuan kemanusiaan ke kota Aleppo timur dihalangi oleh rezim Assad.

Senin pekan lalu, gencatan senjata resmi hancur setelah Damaskus mengumumkan pencabutannya.

Menyebabkan perang kembali meletus di berbagai front, dimana Aleppo menjadi yang paling menderita karena terkepung dan dibom besar-besaran.

Pada Kamis (22/9), militer Assad mengumumkan operasi ofensif untuk merebut seluruh Aleppo timur, dimana sekitar 250-300 ribu warga sipil masih berada di sana.

Meningkatkan intensitas serangan udara secara signifikan. Menurut warga, ini menjadi yang terparah sejak awal perang.

Kelompok amal Save The Children mengatakan berdasarkan keterangan para pekerja kemanusiaan di lapangan, sekitar setengah dari korban yang diselamatkan dari puing-puing adalah anak-anak.

Sebuah rumah sakit darurat di Aleppo melaporkan pada Sabtu (24/9), bahwa 43% korban yang mereka rawat adalah anak-anak. (Reuters/BBC Indonesia/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.