Ilustrasi militan anak-anak (foto),
Menteri Hak Asasi Manusia Yaman Ezz Eddin al-Asbahi menuduh pemberontak Syi'ah Houthi mengeksploitasi dan memaksa anak di bawah umur maupun perempuan di negara itu agar terlibat dalam  perang dengan pemerintah yang telah berlangsung selama 2 tahun.

Selain itu, menurut al-Asbahi, Houthi juga telah menyebabkan 1.000 rakyat sipil serta lebih dari 300 anak meninggal akibat serangan roketnya sepanjang berlangsungnya perang Yaman.

"Houthi telah memaksa anak-anak untuk turut berperang dalam konflik Yaman, selama empat bulan ini kelompok milisi tersebut telah merekrut sekitar 4.800 anak laki-laki yang dijadikan tentara", ujar al-Asbahi, Rabu (7/9), seperti dikutip CNN Indonesia dari Al Arabiya.

Dugaan eksploitasi ini diperkuat dengan bukti gambar dan video yang memperlihatkan sekelompok perempuan dan anak-anak Yaman membawa senjata berat berbondong-bondong berkeliling kota Sana'a dalam pawai militer yang digagas Houthi.

Sambil membawa senjata mereka juga bersumpah untuk berjuang bersama Houthi dalam konflik Yaman.

"Kami akan memperjuangkan negara kami hingga tetes darah terakhir", ujar salah satu milisi perempuan dalam parade tersebut.

"Salah satu pundak saya menggendong anak, dan di pundak lainnya saya membawa senjata", ujar wanita lainnya.

Parade militer Houthi
Al-Asbahi menyatakan bahwa sekitar 3.000 orang ditawan oleh pemberontak Syi'ah. Setidaknya ada 70 kasus penyiksaan dari dalam penjara yang dikendalikan Houthi.

Berdasarkan laporan PBB, sedikitnya 10 ribu orang terbunuh dalam konflik ini, 4.000 di antaranya merupakan masyarakat sipil.

Sementara itu, duta Besar Yaman untuk Amerika Serikat, Ahmed Awad bin Mubarak, menentang keras gerakan Houthi.

Ia berharap isu eksploitasi anak dan perempuan pada perang ini akan semakin mendorong komunitas internasional dalam menenekan Houthi agar mau mengakhiri konflik.

"Langkah (perekrutan perempuan dan anak) ini sangat bertentangan dengan masyarakat dan undang-undang Yaman", kata Awad.

Houthi mulai menduduki Sana'a secara sepihak pada September 2014, lalu menawan pemerintah sah pimpinan Presiden Mansour Hadi. Keberhasilan Houthi tak lepas dari dukungan unit militer loyalis mantan diktator Abdullah Saleh.

Hadi kemudian melarikan diri ke kota Aden dan menyeru negara-negara Arab agar "menyelamatkan Yaman".

Sebagai respons, Arab Saudi memimpin sebuah koalisi militer regional untuk mengintervensi Yaman pada Maret 2015 lalu.

Hal itu kemudian diperkuat Resolusi DK PBB yang isinya menuntut Houthi dan Saleh mundur dari wilayah yang diduduki.

Resolusi juga menuntut pelucutan senjata serta embargo atau daftar blacklist pada beberapa petinggi Houthi bersama Abdullah Saleh.

Sebuah perundingan damai di Kuwait yang diinisiasi PBB pada tahun ini telah gagal. Sementara Houthi dan Saleh kemudian melakukan langkah inkonstitusional dengan mengklaim kekuasaan melalui pembentukan "Dewan Gubernur".

Saat ini, Houthi dan loyalis Saleh menguasai sebagian besar utara Yaman, sementara pasukan Hadi yang didukung suku-suku Sunni lokal menguasai sisanya. (CNN Indonesia/Al-Arabiya/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.