Menlu Saudi (foto),
Arab Saudi mengungkapkan pandangannya mengenai masa depan konflik Suriah, antara pemerintahan Basyar al-Assad dengan oposisi Sunni yang telah memasuki tahun ke-6.

Hari Rabu (7/9), Menteri Luar Negeri Saudi, Adel al-Jubeir, menghadiri pertemuan 'Sahabat Suriah' untuk tingkat menteri di London, Inggris.

Lewat pertemuan, para menteri membahas visi komprehensif terkait masa depan Suriah, serta kerangka kerja operasional dalam mencari solusi dan proses transisi politik sesuai Resolusi Dewan Keamanan PBB.
 
Termasuk rencana membentuk suatu badan transisi kekuasaan eksekutif, sehingga bisa secepatnya mengakhiri krisis sesuai aspirasi dari rakyat Suriah.

Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan menteri dari Inggris, Perancis, Amerika Serikat, Arab Saudi, Qatar, UEA, Jerman, Jordan, Italia, Uni Eropa dan Turki.

Dalam sebuah wawancara dengan CNN, Adel al-Jubeir mengatakan bahwa Basyar al-Assad tak akan terus-menerus berkuasa dan hanya masalah waktu sebelum ia digulingkan. Karena menurut Jubeir, rakyat Suriah tidak ingin lagi diperintah oleh sang diktator.

Al-Jubeir juga menyoroti sikap Assad yang tidak peduli dengan upaya gencatan senjata. Dimana PBB memandang hal ini sangat penting dalam penyebaran bantuan kemanusiaan.

"Saya yakin, dan saya mengungkapkan keyakinan ​​saya dengan jujur, bahwa Assad tidak tertarik untuk mengikuti pembicaraan damai sesuai dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB 2254", kritiknya.

Al-Jubeir kemudian menunjukkan posisi oposisi yang memiliki rencana, aksi, visi dan roadmap (tentang penyelesaian konflik), namun sebaliknya rezim Assad tidak memilikinya, "hanya ada bom dan gas Klorin".

Soal transisi, proses itu akan dilakukan sesuai deklarasi Jenewa I yang mengisyaratkan pemindahan kekuasaan secara bertahap secepatnya.

"Jadi apakah proses akan berlangsung dalam beberapa hari, atau minggu atau bulan, sampai akhirnya (Assad) akan turun. Tetapi jika kita mengatakan bahwa transisi akan berlangsung selama satu tahun atau satu tahun setengah, ini tidak bisa diterima. Dan saya tidak kira itu juga tidak dapat diterima oleh Turki atau oposisi", lanjutnya.

Al-Jubeir menyatakan ketika Assad tidak mampu lagi mempertahankan kekuasaan dengan pasukannya, ia mencari bantuan dari Iran, yang mengirim Garda Revolusi Iran dan kelompok teroris Hezbollah.

"Tapi ini masih tidak cukup untuk menyelamatkan kekuasaannya. (Sehingga) Diimpor lagi milisi Syi'ah dari Irak, Afghanistan dan Pakistan, yang kemudian tetap tidak mampu menyelamatkannya, sehingga Assad meminta bantuan Rusia. Bahkan ini akhirnya tidak akan berhasil", tegas al-Jubeir.

Terkait hubungan Saudi-Rusia, ia menyatakan bahwa pertentangan dalam masalah Suriah diharapkan tidak mempengaruhi hubungan kedua negara.

"Kedua negara memiliki kesepahaman agar (masalah Suriah) tidak mempengaruhi hubungan bilateral", jelas Jubeir.

Perang Suriah telah menjadi sangat rumit ketika melibatkan banyak aktor lokal dan pemain asing, sesuai kepentingannya masing-masing. Termasuk hadirnya kelompok ultra ekstrimis ISIS.

Dalam sudut pandang rezim Assad, memerangi kelompok oposisi jauh lebih penting daripada memberantas ISIS. Hal itu diungkap oleh Menteri Luar Negeri Suriah dalam pertemuan dengan parlemen Irak.

Damaskus juga menuduh oposisi sebagai "kepanjangan tangan" negara-negara Teluk untuk merebut Suriah. (Arabnews/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.