Korban serangan Assad/Rusia (foto),
Serangan udara oleh militer Suriah yang terjadi bertubi-tubi di kota Aleppo telah membuat hampir dua juta orang kehilangan akses air, ungkap PBB.

Badan PBB untuk anak-anak (UNICEF) mengatakan bahwa serangan besar pada Jum'at telah mencegah upaya perbaikan stasiun pompa air yang disiapkan untuk memasok kebutuhan air ke wilayah timur kota yang dikuasai oposisi.

Dengan demikian stasiun pompa air ke seluruh Aleppo tidak berfungsi setelah dilancarkannya serangan rezim Assad.

Militer Assad bertekad merebut kembali seluruh wilayah kota Aleppo, yaitu sisi timur yang dikuasai oposisi. Operasi serangan terbaru diumumkan pada Kamis malam (22/9), setelah gencatan senjata dicabut Senin lalu.

Kieran Dwyer, juru bicara UNICEF mengatakan kepada BBC, bahwa air tidak lagi dipompa untuk memenuhi kebutuhan penduduk di kota Aleppo, baik sisi timur maupun barat.

"..Hampir dua juta orang tanpa air", keluhnya.

Menurut Dwyer, kondisi tanpa air ini bisa menjadi "bencana" bagi warga yang kini harus beralih memakai air "tidak bersih" (tanpa pengolahan) atau berisiko tercemar sumber penyakit.

Ia juga mengeluhkan pasokan air bersih telah digunakan sebagai senjata oleh pihak-pihak dalam perang itu.

Sebagian stasiun pompa air di Aleppo timur yang dikuasai kelompok oposisi mengalami kerusakan pada Kamis. Sedangkan upaya perbaikan tidak mungkin dilakukan di tengah serangan udara.

"Itu adalah stasiun pompa air bagi sekitar 200.000 orang di Aleppo timur, dan juga di barat kota untuk sekitar 1,5 juta orang. Ini sengaja dimatikan", katanya kepada BBC.

Para aktivis mengatakan pesawat tempur Assad dan Rusia ambil bagian dalam serangan terbaru mereka, meskipun Rusia belum mengkonfirmasi keterlibatannya.

Seperti neraka
Pengeboman besar-besaran ke Aleppo timur telah membunuh lebih dari 100 warga sipil dalam 48 jam, menurut kelompok penyelamat lokal.

Menurut kelompok pemantau SOHR, serangan mortir oposisi menghantam kota Aleppo barat yang dikuasai Assad, dan menewaskan 15 orang. SOHR baru mengkonfirmasi 72 kematian pada Jum'at.

Pengeboman yang melibat jet tempur Rusia diyakini menggunakan jenis rudal baru yang dapat menimbulkan kerusakan lebih kuat, selain bom-bom yang telah dikenal, dimana kawah-kawah besar tercipta di bekas ledakan.

Serangan udara terus berlanjut sejak Sabtu pagi, menurut media pro oposisi, Orient-news. Satu skuadron jet tempur Rusia menyerang berbagai kawasan sebagaimana yang dilakukan sehari sebelumnya.

Korban meninggal hari ini mencapai 50 orang warga sipil. 13 di distrik Bestan al-Qaser, 15 di Ard al-Hamra dan al-Sakhour, 3 di al-Meyassar, 9 di Tareek al-Bab, 3 di al-Kallaseh, 6 di Karm Hommad dan 1 di al-Nairab.

Bom cluster dan bom vakum dilaporkan masih jatuhkan di sekitar pemukiman warga sipil, sehingga Rusia dituduh sengaja melakukan pembantaian oleh aktivis lokal.

Selain ke kawasan kota, serangan udara juga terjadi di daerah pinggiran provinsi. Di desa Bishqateen, 19 warga sipil terbunuh dan banyak korban lainnya terluka.

Kota al-Bab (di bawah kontrol ISIS), di pinggiran provinsi Aleppo bagian timur, juga ditargetkan oleh jet-jet Assad/Rusia.

12 warga sipil, yang kebanyakan anak-anak dan perempuan, dinyatakan tewas akibat serangan itu, sementara puluhan lainnya cedera.

Sementara di bagian utara provinsi, di daerah Kafr Hamra, 3 warga sipil tewas oleh serangan.

Operasi pengeboman terbaru oleh gabungan militer rezim Assad-Rusia ke kota Aleppo dan sekitarnya, dipandang sebagai serangan udara paling sengit sejak perang meletus.

Di darat, pasukan Assad dan milisi pendukungnya berhasil meraih kemajuan di kamp Handarat di utara kota. Pertempuran sengit juga terjadi di Syeikh Saed, bagian selatan kota. (BBC/Orient-news/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.