Ilustrasi penutupan lokalisasi (foto),
Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengatakan, dari 160 lebih lokalisasi di Indonesia pada tahun 2014, kini tinggal 33 lokalisasi yang belum ditutup.

"Dengan ditutupnya tiga lokalisasi di Banjarbaru maka secara nasional tinggal 33", kata Mensos saat menghadiri deklarasi penutupan lokalisasi di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Minggu.

Khofifah mengatakan penutupan seluruh lokalisasi ditargetkan selesai pada tahun 2019.

Penutupan lokalisasi bukan pekerjaan mudah dan membutuhkan kerja sama banyak pihak karena persoalannya sedemikian kompleks, termasuk pasca penutupan.

Kementerian Sosial sendiri memberikan bantuan kepada eks pelacur atau pekerja seks komersial (PSK) sebesar Rp 5.050.000.

Dengan rincian Rp 3 juta untuk Usaha Ekonomi Produktif (UEP), Rp 1,8 juta untuk jaminan hidup, dan Rp 250 ribu untuk transpor lokal. Bantuan diberikan selama enam bulan.

Sementara itu, Walikota Banjarbaru Nadjmi Andhani menjelaskan bahwa tiga lokalisasi yang ditutup adalah di Pebatuan di Jalan Kenanga, KM 18, dan Batu Besi.

"Prostitusi di Banjarbaru sudah 40 tahun dan untuk menutupnya bukan hal mudah. Kami menggunakan konsep menutup bukan menggusur", katanya.

Pemkot sudah mengantisipasi dampak penutupan yang secara langsung dirasakan PSK, pemilik wisma, dan masyarakat sekitar yang terlibat aktivitas ekonomi.

Untuk PSK akan diberi bantuan yang anggarannya berasal dari Kemensos, untuk pemilik wisma akan dilakukan pembebasan lahan dengan luas sekitar 1,5 hektare, dan bekas lokalisasi akan dijadikan kawasan yang hidup secara ekonomi.

Bahkan, di bekas areal lokalisasi di Batu Besi akan dibangun kantor kecamatan, Polsek, dan Koramil.

Deklarasi penutupan lokalisasi diikuti sejumlah elemen masyarakat di Banjarbaru dan dihadiri oleh pejabat daerah tetangga. (Antaranews)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.