Polisi berjaga di masjid yang dibom (foto),
Kepolisian Jerman meningkatkan penjagaan di masjid-masjid di kota Dresden, pasca 2 serangan bom di timur kota pada Senin malam. Diduga pelaku teror adalah kelompok ekstrimis sayap kanan.

Horst Kretzschmar, kepala kepolisian Dresden mengatakan ada tiga masjid, pusat sosial umat Islam dan ruang ibadah Muslim di kota Dresden yang dijaga polisi.

Peningkatan keamanan dilakukan menyusul serangan dua hari lalu di 2 tempat berbeda, yaitu masjid dan Dresden's International Congress Center.

Tidak ada korban dalam serangan, walau imam masjid ketika itu tengah berada di dalam ruangan, bersama istri dan anak-anaknya.

Bekas ledakan di masjid
Kepolisian menduga motif dari tindakan tersebut adalah sikap xenofobia (alergi pada hal yang dianggap asing) dari kelompok ekstrimis sayap kanan.

"Walau sejauh ini belum ada yang mengklaim bertanggung jawab, namun kami menganggap motif tindakan ini adalah xenofobia", kata Kretzschmar.

Ia juga mengatakan polisi menduga ada hubungan antara serangan ke masjid di Dresden dengan rencana peringatan reunifikasi Jerman pada 3 Oktober mendatang.

Tidak lama setelah ledakan di masjid, Dresden's International Congress Center juga jadi sasaran serangan bom rakitan. Ledakan juga terjadi di dekat sebuah bar.

Mehmet Demirbas, pendiri masjid di Dresden mengatakan bahwa Muslim di kota itu sejak lama telah mengantisipasi adanya serangan.

"Dulu jendela kaca dipecahkan, atau ada coretan di dinding. Tapi ini pertama kalinya hal seperti ini terjadi. Semoga ini yang terakhir kali dan kami bisa hidup bahagia di Dresden", kata Demirbas.

Dresden adalah markas kelompok anti-Islam PEGIDA yang melakukan aksi pekanan dengan puluhan ribu pengikut di seluruh Jerman.

Gelombang kedatangan 1 juta imigran Timur Tengah yang kebanyakan Muslim ke Jerman sejak tahun lalu, telah meningkatkan gesekan sosial, terutama di bagian timur Jerman, memunculkan serangan-serangan ke penampungan pengungsi.

Dukungan terhadap Partai Alternatif untuk Jerman, AfD, yang mengatakan bahwa "Islam tidak sesuai dengan konstitusi Jerman" meningkat setelah Kanselir Angela Merkel membuka pintu selebar-lebarnya bagi pengungsi.

Namun salah satu pemimpin AfD frauke Petry mengecam serangan ke masjid dengan mengatakan.

"Serangan ke bangunan tempat Tuhan dipuja sangat barbar, entah itu gereja, masjid atau sinagoga", katanya.

Menteri Keuangan Jerman Wolfgang Schaeuble menekankan dalam konferensi tahunan Islam, hari Selasa, bahwa Islam adalah bagian dari Jerman. Pandangan ini sebelumnya disuarakan oleh Merkel pada tahun 2015. (CNN Indonesia/CNN)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.