Ilustrasi para santri (foto),
Membicarakan dunia pesantren rupanya tak lepas dari fenomena menyimpang yang sudah jadi "rahasia umum".

Sistem pesantren yang sangat ketat memisahkan laki-laki dan perempuan, serta isolasi batasan aktivitas mereka terkait hiburan/kesenangan, ternyata membuka celah munculnya perilaku tak wajar di kalangan penuntut ilmu pondokan itu.

Sebut saja dengan istilah mairil. Sebuah sebutan bagi hubungan "kasih sayang" sesama jenis antara kakak kelas dengan adik santrinya.

Junior yang diperebutkan untuk ikatan tak wajar tersebut biasanya yang memiliki wajah ganteng, tampan, imut, dan baby face. Jika lebih spesifik lagi, tipe laki-laki ini disebut sebagai "amrod".

Seperti dilansir Merdeka pada 2014, menurut pengakuan salah satu santri yang pernah nyantri di Kediri, Jawa Timur, santri dengan wajah baby face selalu menjadi incaran atau rebutan santri-santri senior.

Tidak jarang antar santri senior itu terlibat perselisihan untuk memperebutkan si amrod yang baby face, termasuk saling jotos dan adu mulut.

"Bahkan ada panggilan-panggilan sayang buat santri yang tampan itu. Kalau tampan sekali bisa dipanggil Evie Tamala, atau bisa saja Erie Susan", kata mantan santri yang enggan disebutkan namanya itu.

Tapi menurutnya, kebiasaan menyimpang ini bukan karena mereka memiliki kelainan seksual. Namun lantaran mereka jarang bersinggungan dengan lawan jenis dalam waktu yang lama, sehingga pelampiasannya adalah perilaku mairil.

"Pada dasarnya mereka normal, cuma lama gak bersosialisasi dengan perempuan saja, lantaran di pesantren kan dipisah antara pria dan wanita", ungkapnya.

Sementara berdasar keterangan lain dari sumber Risalah beberapa tahun lalu, santri junior yang telah jadi "mitra", akan mendapatkan perhatian, perlindungan dan berbagai kemudahan lain dari seniornya itu.

Diantaranya seperti membantu mencucikan baju hingga rajin mentraktir sang "mitra kasih sayang".

Dalam buku berjudul 'Mairil, Sepenggal Kisah Biru di Pesantren', dijelaskan dengan gamblang kisah kasih terlarang antara para santri tersebut.

Aktivitas pelampiasan nafsu seksual biasanya disebut sebagai nyempet, atau kontak fisik dalam bentuk gesekan, pelukan dan semacamnya yang bisa menimbulkan sensasi erotis dari mitra sesama jenis, ketika si santri sedang birahi.

Dalam buku yang diterbitkan pada tahun 2005 itu, perilaku nyempet bisa terjadi secara insidental dan sesaat (bahkan pemaksaan), sedangkan mairil relatif stabil dan intensitasnya panjang, karena adanya ikatan tertentu.

Fenomena nyempet bukan sekedar didasarkan atas suka sama suka. Namun bisa dilakukan secara sembunyi-sembunyi saat si sasaran sedang tertidur lelap.

Artinya perilaku menyimpang itu dilakukan pelaku terhadap korban yang tidak menyadarinya.

Senada dengan itu, penelitian Kamiasari (2011) mendefinisikan mairil sebagai "hubungan kasih sayang yang terjadi antara sesama jenis yang terjadi di dalam pesantren".

Hubungan ini dapat termanifestasi ke dalam perilaku seksual yang diistilahkan dengan nyempet. Fenomena mairil diteliti dari pengalaman santri yang pernah mengalaminya.

Mairil dan nyempet termasuk homoseksual intefemoral yaitu menghimpitkan alat kelamin ke sela-sela paha.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa saat nyempet, pelaku berfantasi jika "mitra"-nya itu adalah seorang perempuan.

Pelaku biasanya disebut warok, yang melakukan nyempet dengan juniornya (sesama jenis) untuk melampiaskan nafsunya.

Perilaku mairil dan nyempet di pesantren didasarkan atas suka sama suka, namun ada juga yang melakukan secara paksa. Penyebab munculnya mairil dan nyempet disebabkan lingkungan yang homogen.

Para santri mengetahui bahwa perilaku mairil dan nyempet hukumnya haram, tetapi tidak ada peraturan tegas untuk menghapus perilaku menyimpang ini di pesantren.

Mereka juga beranggapan bahwa tidak ada dampak kesehatan, karena nyempet dilakukan hanya dengan menghimpitkan alat kelamin ke sela-sela paha, tanpa penetrasi ke dalam dubur (sodomi).

Perilaku mairil dan nyempet dilakukan di pesantren semenjak santri umur 13-17 tahun, di kamar dan hampir terjadi tiap malam.

Kesimpulan penelitian itu mengungkap bahwa mairil dan nyempet di pesantren bukanlah hal yang tabu, semua santri mengetahui tentangnya. (Merdeka/Penelitian)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.