Banyak warga AS beranggapan Saudi terlibat, walau tak ada bukti (foto),
Kongres Amerika Serikat menolak veto (pemblokiran) Presiden Barack Obama terkait pembentukan UU yang memungkinkan keluarga korban serangan teror 11 September 2001 untuk menuntut Arab Saudi.

Diberitakan CNN Indonesia dari Reuters, penolakan atas veto Obama diputuskan melalui pemungutan suara Kongres pada Rabu (28/9).

Ini merupakan kali pertama Kongres AS menolak veto Obama, di saat hanya empat bulan sebelum masa kepemimpinannya berakhir.

Hasil voting di Dewan Perwakilan Rakyat AS menunjukkan 348 suara berhasil dikumpulkan untuk menolak veto, sementara hanya 77 suara yang setuju terhadap veto Obama itu.

Penolakan terhadap veto Obama juga berarti bahwa RUU yang memiliki nama resmi "Undang-Undang Keadilan Melawan Pendukung Terorisme" (JASTA) akan segera disahkan.

Penolakan Kongres menjadi pukulan pada kepemimpinan Obama serta berisiko pada hubungan AS dengan Arab Saudi. Selama ini, Saudi adalah sekutu AS di kawasan Timur Tengah.

Sejak awal kepemimpinannya, Obama telah mengeluarkan 12 veto, dimana 11 di antaranya diterima. Namun kali ini, hampir semua pendukung kuat Obama di Kongres bahkan menentangnya.

"Menolak veto presiden adalah sesuatu yang tidak kami anggap enteng, tapi itu penting bahwa dalam hal ini keluarga korban 9/11 diizinkan untuk mencari keadilan, bahkan jika itu menyebabkan beberapa ketidaknyamanan diplomatik", kata Senator Charles Schumer, pejabat Senat Demokrat yang mewakili New York.

New York adalah kota tempat berdirinya World Trade Center yang menjadi sasaran serangan, menyebabkan hampir 3.000 orang tewas pada 11 September 2001.

Schumer memimpin perjuangan untuk meloloskan undang-undang ini di Senat, bersama dengan Senator John Cornyn, pejabat dari Partai Republik tertinggi kedua di Senat.

UU Jasta sebelumnya memang lolos di DPR dan Senat tanpa penolakan apapun di awal tahun ini.

Keluarga korban 9/11 mendorong pembentukan UU selama 15 tahun sejak serangan terjadi. Mereka ingin adanya kerangka hukum pemberian pengecualian terhadap kekebalan hukum yang melarang penuntutan terhadap pemerintah Saudi.

"Kami bersukacita dalam kemenangan ini dan berharap kami akhirnya bisa mendapatkan lebih banyak jawaban mengenai siapa yang benar-benar berada di balik serangan balik," Terry Strada, yang kehilangan suaminya dalam serangan 9/11.

Riyadh selama ini membantah tuduhan mendukung para teroris yang membajak empat pesawat yang menyerang AS.

Sebanyak 15 dari 19 teroris itu berkewarganegaraan Saudi, membuat banyak warga AS menuding kemungkinan keterlibatan Saudi, meski belum pernah ada bukti konkrit yang ditemukan.

CIA sendiri telah menyatakan bahwa tidak ada bukti pemerintah Arab Saudi memiliki keterlibatan apapun yang berperan dalam tragedi itu.

UU Jasta diyakini bisa menimbulkan "balas dendam" serupa dari negara lain yang selama ini menjamin kekebalan diplomatik pejabat pemerintah AS. Mengingat AS adalah negara besar dengan berbagai aktivitas geopolitik dan keamanan di penjuru dunia. (CNN Indonesia/Reuters)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.