Emir Qatar Syaikh Tamim bin Hamad al-Thani Mengkritik Kebijakan Obama di Suriah

Emir Qatar Syaikh Tamim bin Hamad al-Thani
Qatar mengkritik kebijakan Presiden Amerika Serikat, Barack Hussein Obama di Suriah, hari Selasa (20/9), di hadapan forum PBB.

Emir Qatar, Syaikh Tamim bin Hamad al-Thani, menyoroti rasa frustrasi yang mulai muncul diantara negara-negara penentang Assad karena kebijakan "loyo" atau tanpa semangat dari AS dalam menuntaskan perang berlarut di Suriah.

Qatar adalah salah satu penentang keras rezim Suriah yang dipimpin Basyar al-Assad, seperti halnya posisi politik AS dan banyak negara lainnya.

Doha telah mendukung kelompok oposisi Sunni yang berusaha untuk menggulingkan Assad, dengan suplai dana ke berbagai kelompok pejuang.

Berbicara di Majelis Umum PBB, Emir Qatar mengkritik Obama terkait apa yang disebut sebagai batasan "garis merah" di Suriah.

Pada Agustus 2013, Obama tiba-tiba membatalkan rencana serangan udara AS, meski ia telah bersumpah untuk melakukannya jika pasukan Assad melanggar batasan "garis merah" dan menggunakan senjata kimia.

Sembilan hari sebelumnya, sebuah serangan gas kimia Sarin menewaskan sebanyak 1.400 warga sipil Suriah di wilayah oposisi, Ghouta, pinggiran Damaskus.

"Garis-garis merah (batasan peringatan) ditetapkan pada rezim yang telah melanggar itu, namun mereka yang membatasi garis justru tidak terikat (untuk mematuhinya)", kata Tamim menurut sebuah transkrip berbahasa Inggris.

"Garis merah terus digeser hingga rezim merasa bahwa tidak ada batasan bertindak (karena) tanpa ada tuntutan bertanggungjawab", kritiknya.

Kebijakan Obama di Suriah didasarkan pada maksud menghindari keterlibatan militer lebih jauh di kawasan yang kacau ini. Kritikus menuduh Obama ragu-ragu dan lebih memilih menghindari risiko.

AS hanya melakukan intervensi militer yang difokuskan memerangi kelompok militan ISIS di Suriah dan Irak.

Assad yang dilindungi Rusia, pada 2013 selamat dari sanksi militer internasional, atas serangan gas kimia di Ghouta.

AS membatalkan opsi militer dan sempat bersitegang dengan Rusia yang mengirim armada tempurnya di perairan Suriah.

Washington dan Moskow akhirnya hanya sepakat melakukan pelucutan senjata kimia yang dimiliki militer rezim Suriah, tanpa adanya tindakan hukum jelas pada pelaku serangan gas kimia.

Namun demikian, setelahnya berbagai serangan gas kimia Klorin masih kerap terjadi, seperti dilaporkan oleh tim medis dan kelompok pemantau pasca serangan udara atau bom Birmil. (Reuters/rslh)
Share To:

Risalah Media

Berita dan informasi dengan sudut pandang Islam

Post A Comment:

0 comments so far,add yours

Note: only a member of this blog may post a comment.